"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"

Yayasan

Entri Populer

Fasilitas


Struktur Pengurus

Galery Siswa (i)

PENGUMUMAN KELULUSAN PSB 2019/2020 DAYAH DARUL IHSAN

PENGUMUMAN  PENDAFTARAN ULANG SANTRI BARU 2019/2020  DAYAH DARUL IHSAN TGK H HASAN KRUENG KALEE

1. Berdasarkan hasil keputusan Rapat Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB) dengan Pimpinan Yayasan Dayah Darul Ihsan Tahun Ajaran 2019/2020, maka memutuskan Nama dan Nomor Peserta Ujian yang telah mengikuti Seleksi di Dayah Darul Ihsan yang terlampir dibawah ini dinyatakan LULUS  dan menjadi Santri pada Dayah Darul Ihsan. (Data terlampir)

2. Untuk Santri yang dinyatakan LULUS, dapat melakukan Pendaftaran Ulang dimulai pada :  Tanggal  : 15 – 23 Maret 2019 Pukul  : 09.00 – 13.15 wib dan 14.30 – 16.00 wib Hari  : Setiap hari kerja (termasuk Hari Minggu) * jika tidak melaku kan pendaftaran ulang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, maka santri dianggap mengundurkan diri.

TINGKAT MTs


TINGKAT MA DAN  SMK TKJ







Keliru Memahami Nash, Penyebab Perpecahan dalam Islam


Tgk Muhammad Faisal, M. Ag saat memberi materi di kediaman ketua dewan pembina, Tgk H Usamah El Madny, S.Ag, MM, Gampong Meunasah Baet Lam ujong,  Ulee Kareng, Banda Aceh, Senin, (14/01/ 2019)  malam.

Banda Aceh –  Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh mengadakan pengajian perdana di awal tahun 2019 di kediaman ketua dewan pembina, Tgk H Usamah El Madny, S.Ag, MM, Gampong Meunasah Baet Lam ujong,  Ulee Kareng, Banda Aceh, Senin, (14/01/ 2019)  malam.

Kajian perdana ormas berbasis dayah yang beraqidah ahlussunnah wal jamaah ini,  diisi oleh Tgk Muhammad Faisal, M. Ag, pimpinan Dayah Darul Ihsan, Abu Hasan Krueng Kalee.

Kajian ini mengupas kitab peninggalan Abu Krueng Kalee ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah (mutiara berharga dalam rangka menolak paham wahabi) karya asy-Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Mekah (w 1304 H).

Pada mukadimah, pemateri  mensyarah  hadits Jibril tentang Islam, Iman dan Ihsan.
Dari hadist Jibril inilah para ulama mengkodefikasi ilmu dalam Islam, misalnya dari pertanyaan Iman, para ulama membuat kaidah dalam ilmu yang kita kenal hari ini dengan ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, Ilmu Aqaid, Ilmu Ushuluddin, dan ada juga istilah Abi Hanifah dengan al Fiqh al Akbar.

“Begitu juga dengan ilmu lainya, seperti Tasawuf, semua itu bersumber dari Al Quran dan Hadist. Yang menjadi masalah sekarang, ada sebagaian kelompok yang menuduh Tasawuf bid’ah. Padahal itu akibat mereka tidak mampu memahami kodefikasi atau kaidah ilmu yang telah diletakkan oleh para ulama salaf as Sālih.” terang Tgk Faisal

Sebenarnya, tasawuf dan ilmu kalam itu bukanlah kreasi dari ulama, tapi semua bersumber dari al quran dan hadist.
Yang jadi masalah pada Tasawuf menurut Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi Dulu, “Pada zaman salaf as Sālih  Tasawuf ada namun tanpa nama, zaman sekarang hanya nama tanpa ada yang patut diberi nama.”


Dalam syarahan dan diskusi juga membahas tentang kelompok yang kurang tepat memahami hadist  “Man ahdatsa fii amrina hadza ma laisa minhu fahuwa raddu” mereka membuang kata kunci “ma laisa minhu” padahal itu menunjukkan boleh membuat perkara baru selama selama tidak bertentangan dengan syariat.

Juga kesalahan melarang ziarah kubur Rasulullah SAW dan kubur lainnya tersebab salah menempatkan hadsit berikut ini;
  “Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” [HR. Bukhari dan Muslim].

Hadist di atas fokus pada larangan melakukan safir khusus ke selain tiga mesjid tersebut, bukan pada ziarah kubur. Inilah juga penyebab awal pelarangan ziarah kubur, dan melabeli kelempok Islam dengan kuburiyyun (pecinta kubur). Bahkan awal pemerintahan Al-Mamlakah Al-'Arabiyah Al-Su'udiyah yang dirusak adalah kubur para syuhada’ dan para sahabat mulia.

Pada sesi tanya jawab, jamaah mempertanyakan sejumlah pendapat kalangan yang mengkritisi kitab ad-Durar as-Saniyyah karya asy-Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.

Menanggapi pertanyaan Tgk Muhammad Faisal yang juga anggota MPU Aceh Besar menjelaskan, Sengaja kita bahas kitab Syaikh Zaini Dahlan, karena ia hidup satu abad  setelah  pencetus aliran Salafi Wahabi lahir. Tentunya Zaini Dahlan selaku mufti pada masa itu mengetahui berbagai fakta tentang penyimpangan yang ada pada seorang bernama Muhammad bin Abdil Wahab karena di masanya sedang terjadi pergerakan yang luar biasa.

“Mungkin jika kita kaji Kitab al-Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaqasyah ahammi Qadhayahum karya Syeikh Ali Jum'ah, tentu, orang berasumsi tidak sezaman dan informasinya diragukan.” Tambah Tgk Faisal

Jika kita lihat Muhammad bin Abdil Wahab mengarang kitab sangatlah sedikit, jika pun ada hanya mengutip beberapa ayat untuk beberapa judul kajian dan tidak mensyarah secara detail. Kita selaku kaum ahlussunah wal jamaah harus husnudz-dzan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, niatnya baik dalam rangka pemurnian islam versinya (puritanisme), namun sayang, banyak mendapat penolakan dari mayoritas ulama.

“Oleh karena itu, mungkin penyimpangan pada masa Muhammad bin Abdil Wahab mungkin sedikit namun pasca meninggalnya, pengikut terus melakukan penyimpangan demi penyimpangan sebagaimana kita lihat hari ini.  Sudah sampai pada mencederai nama salaf itu sendiri, sebagaimana kata Syaikh Ali Jumah, Salafi telah merusak nama Salaf yang murni.” Tutup Tgk Faisal

Pengajian dimoderatiri oleh Tgk H Umar Rafsanjani, Lc., MA dihadiri oleh puluhan pengurus ISAD dan jamaah Majlis Pengajian Urueng Tuha (MPU-T) pimpinan H Zaini Albayani.

Selanjutnya, Tgk Usamah El-Madny sangat mengapresiasi kajian perdana ISAD, menurutnya kajian ini harus ada dua kali dalam sebulan, hasil kajian juga mesti  ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan, kemudian di muat di website dan media. Dan akhir tahun dicetak dalam bentuk buku.

Pengirim: Tgk Mustafa Husen Woyla,S. Pd.I, Ketua Departemen Dalam Negeri & Pengembangan Organisasi

Ammar, Santri Multitalenta Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee


Ammar, Santri Multitalenta Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee



PRESTASI ZAQHLUL

* juara 1 debat bahasa arab se Aceh Riab Fair 7

*juara 1 kaligrafi Darul ulum Exibition 4 se Aceh

*juara 1 kaligrafi bersama IKAT

*juara 1 kaligrafi hiasan mushaf FITAS

*juara 1 kaligrafi kontemporer poseni aceh besar

*juara 2 kaligrafi Hiasan mushaf Darul ulum exebition 3

*juara 2 kaligrafi hiasan mushaf SALEUM 2018

*juara 3 kaligrafi hiasan mushaf MTQ aceh besar

*juara 3 kaligrafi Tulisan Buku, DISMENPORA 2017

*juara Harapan 2 Kaligrafi tulisan buku MTQ 33

Biodata
Nama :Zaqhlul Ammar
TTL: Banda aceh, 02 juni 2002
Alamat: jln. Tgk glee iniem, desa lambiheu siem, Darussalam ,Aceh Besar
TK: Bungoeng seleupok
SD: Min Tungkob Aceh Besar
MTs: Dayah Darul Ihsan
MA: Dayah Darul Ihsan

Orang tua

Ibu: nurjani
Pekerjaan;IRT

Ayah: zulkifli
Perkerjaan;pedagang
Hobby; memebaca, tenis meja, menulis kaligrafi
Kakak beradik:
1. SULTHAN NAUFAL
2. ZAQHLUL AMMAR
3. M.AQSHA

oleh Admin Web

Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee Kembali Terima Santri Baru Tingkat MTs, MA dan SMK TKJ


Santriwati Darul Ihsan mengikuti Seminar Hari Santri Nasional di Hotel The Pade, 20 Oktober 2018.


Jadwal PENERIMAAN SANTRI BARU (PSB) Tingkat MTs, MA & SMK TKJ , Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Siem, Darussalam, Aceh Besar Tahun Pelajaran 2019-2020

1. Pengambilan formulir / pendaftaran: 25 Februari s/d 7 Maret 2019, setiap hari pukul 09.00-13.15, 14.30 - 16.00  dan 16.30-18.00, di loket pendaftaran, Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee).

2. Tes / Ujian Masuk: 10 Maret 2019.

3. Pengumuman Kelulusan: 13 Maret 2019.
    Pukul 10.00 WIB

4. Pendaftaran Ulang: 15 s/d 23 Maret 2019.

Klik Link Youtube:

Profil Lengkap Dayah Darul Ihsan

5. Kontak Person:

# Tgk ATAILLAH: +62 812-6947-463.
# Tgk MUSTAFA: +6285277149334.
# Tgk MUAKHIR: +62 852-2594-1058.
# Tgk BOIHAQI: +6285260650094.
# Tgk EDI SYUHADA: +62 852-6016-5765.
# Tgk SIRAJUDDIN: +62 852-6000-7233.
# Tgk Murtadha: +62 852-9654-7121.
# Tgk FAISAL ANWAR: +6282274781145.
# Ustadzah Rahmawati: +62 813-6013-6635.
# Tgk Bakhtiar: +6285292952696.
# Tgk AZWIR: +6285361974320.





Tuan Guru Bajang dan Tu Sop akan isi ceramah maulid akbar Darul Ihsan



Aceh Besar - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. KH. Zainul Majdi, MA atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) dan Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop) akan mengisi tabligh akbar di dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Siem, Darussalam, Aceh Besar.

Kenduri maulid nabi Muhammad SAW akan dilaksanakan pada Kamis 14 Jumadil Tsani 1439 H/ 1 Maret 2018. Kemudian tabligh akbar bertemakan “Dari santri Aceh untuk Indonesia” ini akan berlangsung pada Jum’at malam (malam Sabtu) setelah Isya di komplek dayah Darul Ihsan.

Diperkirakan akan dihadiri tujuh  ribu jama’ah, yang terdiri dari santri, mahasiswa, berbagai ormas Islam dan  warga dari Aceh Besar dan Banda Aceh.



Informasi dari Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Tgk. M. Fadhil Rahmi, Lc yang menjadi penghubung Tu Sop dan TGB, sebelum berangkat ke Bireuen pada Sabtu siang, pada hari Jum'at TGB yang juga hafal 30 juz Alquran ini juga akan menjadi Khatib Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Lalu, setelah Jum’at beliau akan mengisi seminar di UIN Ar-Raniry yang diselenggarakan oleh Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

Tuan Guru Bajang adalah ulama muda yang sukses menjadi kepala pemerintahan di NTB. Namanya kian harum setelah berhasil raih capaian-capaian menggembirakan dalam menjalankan roda pemerintahan. Figur beliau dikenal luas sebagai sosok ulama. [Mustafa Woyla]

Darul Ihsan kembali buka pendaftaran santri baru

DAYAH DARUL IHSAN ABU HASAN KRUENG KALEE
KEMBALI MEMBUKA KESEMPATAN KEPADA PUTRA-PUTRI ANDA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019

info detail Profil Dayah
Klik Video Profil dan Prestasi Dayah Darul Ihsan

 Informasi lebih lanjut hubungi Contact Person;

Ust Mustafa Woyla 0852 7714 9334
Ust Ataillah 0812 6947 463
Ust Murtadha 0852 9654 7121
Ust Edi Syuhada 0852 6016 5765
Ust Faisal Anwar 0822 7478 1145

Syarat, Waktu Pendaftaran dan Biaya

CARA MENDAFTAR

1.       Mengisi Formulir pendaftaran sesuai dengan lengkap.
2.       Melampirkan Fotokopi Rapor 3 semester terakhir.
3.       Pasfoto 3x4 2 lembar dan 2x3  2 lembar.
4.       Mengikuti tes/ujian masuk dengan sempurna.

SYARAT PENDAFTARAN ULANG
Lulus tes/ujian masuk.
Melengkapi berkas adminitrasi sebagai berikut:
a.      3 lembar Fotokopi  ijazah terlegalisir
b.      3 lembar  Fotokopi SKHUN khusus lulusan MTs/SMP
c.      1 lembar Fotokopi kartu NISN/surat keterangan NISN dari sekolah asal.
d.      2 lembar Fotokopi KK dan KTP Orang Tua/Wali
e.     2 Lembar fotokopi Akte Kelahiran
m  Melunasi biaya masuk

WAKTU PENDAFTARAN DAN TESTING

1.      Pengambilan formulir/pendaftaran mulai tanggal 24 Februari s/d 14 Maret 2018.
Setiap hari pukul 09.00 s/d 12.30 WIB dan pukul 14.00 s/d 16.00 WIB.
2.      Tes/ujian masuk tanggal 17 Maret 2018
3.      Pengumuman kelulusan tanggal 20 Maret 2018.
(Dilihat di Dayah atau Website: darulihsanabuhasan.com)
4.      Pendaftaran ulang mulai tanggal 20-26  Maret 2018, Setiap hari pukul 09.00 s/d 12.30 WIB dan pukul 14.00 s/d 16.00 WIB.


MATERI UJIAN LISAN
Bacaan Al-Quran, Tajwid, pengetahuan agama dan wawancara.

MATERI UJIAN TULISAN
Pengetahuan agama, Matematika, Ilmu alam dan sosial. Khusus calon siswa Madrasah Aliyah ditambah bahasa Arab dan bahasa Inggris.



Zulfa Phonna Juara I Tahfidh 10 Juz di berbagai Event

Untungkah Aneuk Beut Berdagang Dengan Allah? (Refleksi Hari Santri Nasional)

Untungkah Aneuk Beut Berdagang Dengan Allah?
(Refleksi Hari Santri Nasional)
Oleh: Teungku Mustafa Husen Woyla

Meudagang adalah bahasa Aceh yang sudah mulai tergerus zaman. Sehingga jika ada satu dua orang menggunakan kata meudagang sudah terasa tidak akrab. Akhir-akhir ini masyarakat Aceh sudah sering mengunakan kata jak beut (mengaji). Bahkan sudah mulai ada yang menggunakan kata mondok atau nyantri. Terlepas dari rupa-rupa kata itu tetap tidak lari dari makna dasarnya yaitu tafaquh fiddin. Adapun nama tempat meudagang sebelum dan sesudah kemerdekaan ada bermacam sebutan dan nama  menurut daerah. Antara lain, Zawiyah (Arab), Dayah (Aceh)  dan Pesantren (Jawa).
Dalam ulasan ini penulis mengunakan kata Meudagang ini sebagai bentuk penyelamatan perbendaharaan kata bahasa Aceh yang hampir punah. Adapun hal lain  yang paling esensial adalah kenapa kata meudagang itu  digunakan dan dipopulerkan oleh masyarakat Aceh tempo dulu, bukankah itu bersifat komersial?  Kata meudagang itu akar katanya dagang yang  bermakna jual-beli. Jika demikian adanya, tabukah mengunakan kata itu pada pekerjaan mulia yang Allah dan rasulNya perintahkan itu?

Secara ilmu kebahasaan (linguistik) jawabanya tentu tidak, karena endatu orang Aceh terkenal dengan rumusan Narit Madja-nya yang begitu sarat dengan kandungan makna dan pesan moral yang tersurat dan tersiratnya dalamnya serta masih relevan digunakan sampai zaman modern ini.
 Allah SWT dengan sangat gamblang  mengunakan kata Meudagang (jual-beli) dalam Al-Qur’an.  Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur'an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka……. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Taubah: 111)

Al-'Imad ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela berkorban di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya."
Jika ada orang ekstrim kiri mengatakan, oh itu kan jihad bermakna qital yang tidak relevan dengan zaman sekarang karena versi mereka jihad bermakna qital  baru ada jika muslim diperangi. Kalau masih aman tentram tidak boleh ada qital.

Boros saya yang bukan pakar bahasa (lingius) , dari aspek filosofis ilmu linguistis meudagang itu sangat mengarah ke jual beli bermakna hakikat bukan majaz. Makna meudagang mengarah ke barter barang atau jasa, pun demekian di dalam makna sesungguhnya jihad di jalan Allah semata mengharap ridha Allah bukan Surga-Nya.

 Dalam tinjauan khusus dunia  pedagang (baca. Aneuk beut) juga penuh perjuangan antara  laba atau rugi. berhasil atau gagal di masa meudagangnya. Dalam arti konkrit, rugi disini adalah gagal menempah diri menjadi manusia berilmu, berakhlaqul karimah dan tidak menjadi agen perubahan bagi keluarga, kaum dan lingkungannya.

Hal ini lah (Allah beli dari orang yang berani berjihad dalam arti yang luas) sangat bersifat mengikat dengan adanya penjelasan dalam ayat Allah yang lain melarang semua ke medan perang dan mesti ada dari meraka yang pergi menuntut ilmu kemudian pulang memberi penerang bagi kaumnya.
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (Surat At-Taubah Ayat 122).

Peran aneuk buet dan  ulama

Sebelum kemerdekaan
Sekalipun masih dianak tirikan di negeri yang direbut dengan pekikan Allahu akbar ini, sudah tak terbantahkan lagi mereka punya andil  besar dalam merebut dan mendirikan bangsa ini.
Dalam upaya mengusir penjajahan kolonial Belanda, sikap para ulama yang kemudian diikuti oleh aneuk beut dan rakyat jelas terlihat dari usaha membentuk laskar mujahidin yang terdiri dari para aneuk beut dan masyarakat guna mengusir penjajahan dari bumi Serambi Mekkah. Hal ini terus berlanjut hingga perang revolusi mempertahankan kemerdekaan.

Puncak dari dukungan para ulama dan aneuk beut terhadap Republik Indonesia yang baru diproklamirkan adalah diterbitkannya "Maklumat Ulama Seluruh Aceh" tanggal 15 oktober 1945. Maklumat ini berisi fatwa bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah sama dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil (jihad fi sabilillah), dan merupakan sambungan dari perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan  Tgk. Chik di Tiro, dan pahlawan-pahlawan kebangsaan yang lain. Maklumat penting ini diprakarsai dan ditanda-tangani oleh empat ulama besar yaitu Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Tgk. Muhammad Daud Beureueh, Tgk. H. Dja'far Sidik Lamjabat, dan Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri, serta diketahui oleh Teuku Nyak Arief selaku residen Aceh dan di setujui oleh Tuanku Mahmud selaku ketua Komite Nasional. (Sumber buku biografi Abu Hasan Krueng Kalee).

Keluarnya maklumat ulama seluruh Aceh tersebut sangat memberi dampak positif bagi pemerintahan baru RI saat itu. Meski tidak sepenuhnya mewakili rakyat Aceh, maklumat tersebut sering ditafsirkan sebagai pernyataan dukungan politik resmi rakyat Aceh terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Disisi lain, maklumat itu  juga berdampak terhadap adanya dukungan fisik dan materil rakyat Aceh bagi membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Sehingga tidak mengherankan, dalam kunjungan pertama presiden Soekarno ke Aceh Juni 1948, ia menegaskan bahwa Aceh dan segenap rakyatnya adalah modal pertama bagi kemerdekaan Republik Indonesia.

Dua trik Snouck redam perlawanan pribumi Aceh

Realitas membuktikan bahwa  Belanda sangat kualahan melawan pergerakan ulama dan aneuk beut sehingga perlu dikirim sarjana ke Mekkah menjadi orientalis yang pada akhirnya dikirim ke Aceh dan Nusantara untuk mencari titik kelemahan kaum muslimin.

Pertama, Dikotomi Islam dan Politik, Kronologis terjadinya kecurigaan Belanda terhadap dayah  di Aceh dan Indonesia, karena dalam ajaran Islam pemerintahan Belanda merupakan pemerintahan kafir yang wajib dilawan dengan jihad fi sabilillah.

Hasil analisis Snouck Hurgronje Islam di Indonesia mesti pilah terbagi kepada dua bagian besar yaitu Islam sebagai religius yang menyarankan kepada pemerintah agar berlaku toleran agar tercipta ketenangan dan stabilitas, dan Islam sebagai politik yang harus dicurigai dan diawasi secara teliti darimana datangnya, terutama yang dipengaruhi oleh ulama dayah.

Salah satu teori yang ampuh digunakan oleh Snouck adalah teori Emile Durkheim, Beberapa taktik Pemerintah Belanda dalam memadamkan pergerakan dan perlawanan anuek beut  antara lain: depolitatsi (pemisahan agama dan politik ) ulama, aneuk beut dan rakyat. Juga para teungku rangkang dalam mengajarkan agama dalam pengawasan Belanda. Tersebab itu ada beberapa pemuda pilih mendalami agama pergi ke Yan Kedah, Malaysia.

Kedua, merusak  solidaritas, Dalam perkuliahan dan diskusi dengan penulis, menurut Kamaruzaman Bustamam Ahmad (KBA), Antropolog ternama Aceh, Snouck berhasil merubah paradigma orang muslim Aceh terhadap agama. Dari mendahulukan agama daripada adat ke mendahulukan adat daripada agama. Sehingga sering kita dapati ada orang yang meninggalkan salat  gara-gara peutimang adat. Dan juga saling hujat tersebab beda majlis taklim atau majlis zikir.
 Tipu muslihat itu sampai hari ini masih kentara terasa. Mungkin karena muslim Aceh terlampau percaya kepada teungku puteh (laqab Snouck) itu yang  konon hafiz Al Qur’an dan pernah menyamar menjadi muslim sehingga dipercayakan jadi imam di Mesjid Raya Baiturrahman. Mesjid kebanggaan orang Aceh.

Hikayat prang sabi bakar semangat juang muslim Aceh

Hikayat ini sendiri dikarang  Tgk. Chik Pante Kulu pada tahun 1881, atas perintah Tgk. Chik Di Tiro.  Menurut  sarjana Belanda bernama  Zentgraaf, hikayat Prang Sabi karangan ulama Aceh itu telah menjadi momok yang sangat ditakuti Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan, apalagi membaca hikayat Prang Sab, mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia-Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kembangan.

Sarjana Belanda ini menyimpulkan bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati kecuali hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu dari Aceh. Kalau pun ada karya sastrawan Perancis La Marseillaise dalam masa Revolusi Perancis, dan karya Common Sense dalam masa perang kemerdekaan Amerika, namun kedua karya sastra itu tidak sebesar pengaruh hikayat Prang Sabi yang dihasilkan Muhammad Pante Kulu. Senada juga yang dikatakan oleh Prof. Dr. Anthoni Reid, ahli sejarah bangsa Australia.

Awal kemerdekaan

Peran ulama dayah tak berhenti hanya sekedar memerdekakan Negara ini  dari penjajahan Belanda namun juga mengawalnya. Sebagaimana tercatat bahwa, setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tahun  1945-1946 dayah Darul Ihsan sekarang (dulu dayah Meunasah Blang) pernah menjadi markas laskar mujahidin untuk melawan  agresi Belanda I. ketika dipimpin oleh  Tgk Ibrahim Payed, wakil kepala Tgk Idris Lamnyong.

Tak berhenti  disitu. Tgk. Ali as Su’udy beserta para mujahidin dikerahkan untuk menjaga wilayah pesisir/pantai Aceh Besar dari masuknya kembali pasukan Belanda yang sudah berada di perairan Sabang.

Kwetika itu, sekitar lima puluh aneuk beut  dan para mujahidin juga dikirim untuk berperang di Medan Area (Besitang dan Pangkalan Brandan di Sumatera Utara) bergabung dengan pasukan tiga bataliyon Aceh lainnya. Yaitu Bataliyon Kolonel Tgk Nurdin (murid Abu Hasan Krueng Kalee), Bataliyon Teuku Hamzah  dan Bataliyon Yusuf. Kemudian hari dari itu, Dayah Darul Ihsan  juga pernah menjadi markas Persindo pimpinan Tgk. Syekh Marhaban, Ali Hasjimi, dan Tgk Nurdin.

Menjaga Kedaulatan NKRI

Peran ulama besar Aceh memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Ketika terjadi konflik DI/TII Aceh yang dipimpin oleh Tgk Daud Beureueh para ulama kaum tua, Abu Hasan Krueng Kalee Abuya Muda Waly, Teungku Abdul Salam Meuraksa, Teungku Saleh Mesigit Raya dan ulama lainnya tidak mendukung gerakan ini bahkan Tgk Syihabuddin Syah (Abu Keumala) murid dari Abuya Waly dengan lantang mensosialiasi fatwa haram terlibat dalam DI/TII ban sigom Aceh  dan digolongkan mereka dalam ahli bughat (Separatis).

 Bahkan sampai hari ini tidak ada istilah kudeta pemerintahan yang sah dalam tiga besar organisasi Islam, yakni Perti-Tarbiyah, Nahdhatul Ulama dan Al-washliyah selama tidak dengan terang melawan perintah Allah SWT.

Kenapa jamaknya aneuk beut berjiwa militan? jawabnya adalah pada umumnya dayah membentuk manusia yang berjiwa ikhlas, berakhlaqul karimah, ta’dhim hormat dan  hubbul wathan (cinta tanah air). Itulah sebabnya penulis panjang lebar mengulas makna meudagang baik  yang tersirat maupun terlafadh.  


Hari ini, mulai dari Sabang sampai Merauke  kami kaum yang masih dimarjinalkan di negeri ini telah menyediakan generasi terbaiknya kami menjadi tokoh pergerakan, menteri, pahlwan hatta  Presiden.
Ayoo Tolak lupa!!! Mari sejenak kita membaca Naskah Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga; “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.


Pertama, bahwa Tugu Emas di Monas dan pesawat RI-01 itu hasil patungan kucuran keringat orang  muslim Aceh, tentunya berkat  seruan dari para ulama dayah.

Kedua, Ramadhan adalah saksi sejarah puncak perjuangan kemerdekaan para ulama dan aneuk beut bersama umat Islam. (Jum’at, 9 Ramadhan 1334 H/17 Agustus 1945).

Ketiga, Allah sudah persiapkan Indonesia menjadi Negara muslim terbesar di dunia bukanlah kebetulan tapi sudah tercatat di Lauhul Mahfudz.

Keempat, tambah sendiri. sebagai pemantik penulis mulakan dengan kata-kata nabi Sulaiman as ketika melihat kebesaran Allah mendatang singgahsana Ratu Balqis dalam sekejab mata “Haaza min fadhli rabbi (ini termasuk kurnia Tuhanku Allah).

Penulis adalah; Guru Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Alumni dayah Darul Muarrif Lam Ateuk dan BUDI Lamno, Sektaris Jenderal Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA) dan juga Panitia Lomba menulis hari Santri Nasional II.  Email: risalahbuyawoyla@gmail.com





Darul Ihsan kembali wakili 4 Cabang MQK VI Nasional JATIM

Musabaqah Tilawatil Kutub (MQK), Jambi, September 2014
Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee kembali wakili 4 Cabang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) - VI Tingkat Nasional di Jawa Timur November mendatang, setelah lulus seleksi Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, di Hotel Jeumpa, Banda Aceh (19/9/2017).
Berikut nama dan cabang yang lulus; Kana Rahmi (Balaghah Ulya Putri), Marjanul Hayat (Tarikh Wustha Putra), Radhwa Yasmin (Tarikh Wustha Putri), dan Alvia Hasli Ramadhan (Debat Bahasa Arab Putri).
Ketua Lembaga Bahasa Darul Ihsan, Ustadz H. Muakhir Zakaria, MA mengatakan, Alhamdulillah kali ini juga masih bertahan mengirim empat utusan walaupun sedikit berbeda cabang. Semoga utusan yang kita kirim dapat mengharumkan nama dayah Aceh di tingkat Nasional.
Ustadz Muakhir menjabarkan, Pada MQK KE- V 2014 di Jambi kita juga mengirim empat wakil, Muhammad Akmal (Debat Bahasa Arab), Rifqi Rizqullah (Debat Bahasa Arab), Kana Rahmi (Fiqh Ulya Putri), dan Raudhah Marzuki (Akhlak Ulya Putri) dan Alhamdulillah waktu juga menjuarai beberapa cabang. (MHW)




‎Aceh Harus Merdeka Menjalankan Syariat Islam

Saat ini, masyarakat dan bangsa ini tengah merayakan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 pada 17 Agustus 2017. Merdeka diartika terlepas dari segala belenggu penjajahan baik lahir maupun batin dalam berbagai bentuk.

Sementara bagi umat Islam, hakikat kemerdekaan dan kebebasan itu sendiri dimaknai dengan mendapatkan segala hak dan menunaikan kewajibannya sesuai ajara agamanya, yang diperintahkan Allah SWT, dengan tidak tunduk dan patuh kepada selain-Nya.

Khusus bagi masyarakat Aceh yang sudah resmi mendapatkan legalitas dari negara dengan aturan perundang-undangan yang ada untuk menjalankan syariat Islam secara kaffah, maka segala aturan hukum agama itu harus bisa dilaksanakan dengan penuh kebebasan dan merdeka tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

Demikian antara lain disampaikan Ulama Mesir, Syeikh Abu Muaz Muhammed Abdul Hay al-Uwenah Al-Mishri saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (16/8/2017) malam.

"Makna kemerdekaan yang hakiki bagi kita muslim adalah tidak mengikuti dan tunduk pada seseorang selain apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT. Begitu juga dengan Aceh, harus bisa merdeka dan bebas ‎menjalankan segala aturan hukum Allah dengan diberlakukannya syariat Islam di daerah mulia ini," ujar Syeikh Abu Muaz.


Syaikhul makhad Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee dari  Mesir ini menambahkan, sudah diberikannya hak khusus kepada Aceh sebagai satu-satunya provinsi di negara ini untuk menerapkan aturan syariat Islam oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia dengan sebuah Undang-undang khusus sejak beberapa belas tahun silam, ini bisa dikatakan merupakan awal dari kemerdekaan Aceh untuk bisa hidup dan tunduk pada aturan Islam secara kaffah.

Karena ini merupakan suatu pilihan kebenaran bagi umat Islam di Aceh, maka jangan ragu atau terpengaruh sedikitpun dengan berbagai godaan untuk meninggalkannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 147 yang artinya, "Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu dan meninggalkannya”.

"Hari ini Aceh sudah mendapatkan kemerdekaan untuk dapat menjalankan syariat Islam, dan karenanya kita bisa tanyakan kepada umat Islam Aceh, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam menjalankan syariat Allah ini atau masih ada hal-hal yang membelenggu syariat, tentu jawabannya ada diri masing-masing umat Islam di daerah ini," kata Abu Muaz yang didampingi penterjemahnya, Ustaz Muakhir Zakaria, S.Pd. I, MA selaku ketua Lembaga Bahasa Dayah Darul Ihsan.


Menurutnya, menjadi iman atau kufur kepada Allah SWT adalah suatu pilihan bagi umat manusia di muka bumi ini, dan Allah mempersilahkan untuk memilih apa saja sesuai keinginan hatinya dan tentunya akan menerima segala konsekuensi dari apa yang telah dipilihnya itu. Jika memilih beriman kepada Allah balasannya adalah surga dan jika memilih kufur balasannya adalah neraka sebagai tempat siksaan yang amat pedih.

"Tugas kita, ingatkanlah mereka untuk memilih yang benar, tapi bukan kita bukan orang yang memaksa pilihan mereka. Jika seseorang sudah memilih dan mengakui tiada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW utusan Allah maka seseorang itu harus memerdekakan dirinya dari ketergantungan kepada selain Allah SWT. Kita membebaskan diri dari hukum-hukum selain Allah SWT, artinya hanya bergantung kepada hukum Allah," ungkapnya.‎

Pada kesempatan tersebut, Syeikh Abu Muaz juga menjelaskan, kisah penjajahan yang dialami oleh negara-negara Islam sejak dulu zaman kekhalifahan Turki Usmani hingga mencapai kemerdekaan secara fisik sekarang ini, namun masih terjajah secara mental dan pikiran yang dibelenggu penjajah dari negara-nagara Eropa dan Barat di luar Islam.

"Hari ini masih banyak negara-negara Islam yang mengaku sudah merdeka dan berdaulat terjajah oleh negara-negara Islam, mentalnya, pemikirannya masih bisa diatur dan mengikuti apa maunya negara-negara barat dan Eropa sehingga umat Islam di negara tersebut menjadi lemah," sebutnya.

Salah satu tanda negara-negara Islam terjajah saat ini, lanjut Syeikh Abu Muaz adalah, ketika Palestina dicaplok dan dijajah oleh Israel sejak puluhan tahun silam hingga sekarang, banyak negara Islam yang diam saja, seolah-olah merestui apa dilakukan Israel dan koleganya Amerika dengan membantai umat Islam di Palestina, tanpa berbuat apapun untuk mencegahnya. 
(Mustafa W)

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved