"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"

Yayasan

Entri Populer

Fasilitas


Struktur Pengurus

Galery Siswa (i)

Untungkah Aneuk Beut Berdagang Dengan Allah? (Refleksi Hari Santri Nasional)

Untungkah Aneuk Beut Berdagang Dengan Allah?
(Refleksi Hari Santri Nasional)
Oleh: Teungku Mustafa Husen Woyla

Meudagang adalah bahasa Aceh yang sudah mulai tergerus zaman. Sehingga jika ada satu dua orang menggunakan kata meudagang sudah terasa tidak akrab. Akhir-akhir ini masyarakat Aceh sudah sering mengunakan kata jak beut (mengaji). Bahkan sudah mulai ada yang menggunakan kata mondok atau nyantri. Terlepas dari rupa-rupa kata itu tetap tidak lari dari makna dasarnya yaitu tafaquh fiddin. Adapun nama tempat meudagang sebelum dan sesudah kemerdekaan ada bermacam sebutan dan nama  menurut daerah. Antara lain, Zawiyah (Arab), Dayah (Aceh)  dan Pesantren (Jawa).
Dalam ulasan ini penulis mengunakan kata Meudagang ini sebagai bentuk penyelamatan perbendaharaan kata bahasa Aceh yang hampir punah. Adapun hal lain  yang paling esensial adalah kenapa kata meudagang itu  digunakan dan dipopulerkan oleh masyarakat Aceh tempo dulu, bukankah itu bersifat komersial?  Kata meudagang itu akar katanya dagang yang  bermakna jual-beli. Jika demikian adanya, tabukah mengunakan kata itu pada pekerjaan mulia yang Allah dan rasulNya perintahkan itu?

Secara ilmu kebahasaan (linguistik) jawabanya tentu tidak, karena endatu orang Aceh terkenal dengan rumusan Narit Madja-nya yang begitu sarat dengan kandungan makna dan pesan moral yang tersurat dan tersiratnya dalamnya serta masih relevan digunakan sampai zaman modern ini.
 Allah SWT dengan sangat gamblang  mengunakan kata Meudagang (jual-beli) dalam Al-Qur’an.  Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur'an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka……. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Taubah: 111)

Al-'Imad ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela berkorban di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya."
Jika ada orang ekstrim kiri mengatakan, oh itu kan jihad bermakna qital yang tidak relevan dengan zaman sekarang karena versi mereka jihad bermakna qital  baru ada jika muslim diperangi. Kalau masih aman tentram tidak boleh ada qital.

Boros saya yang bukan pakar bahasa (lingius) , dari aspek filosofis ilmu linguistis meudagang itu sangat mengarah ke jual beli bermakna hakikat bukan majaz. Makna meudagang mengarah ke barter barang atau jasa, pun demekian di dalam makna sesungguhnya jihad di jalan Allah semata mengharap ridha Allah bukan Surga-Nya.

 Dalam tinjauan khusus dunia  pedagang (baca. Aneuk beut) juga penuh perjuangan antara  laba atau rugi. berhasil atau gagal di masa meudagangnya. Dalam arti konkrit, rugi disini adalah gagal menempah diri menjadi manusia berilmu, berakhlaqul karimah dan tidak menjadi agen perubahan bagi keluarga, kaum dan lingkungannya.

Hal ini lah (Allah beli dari orang yang berani berjihad dalam arti yang luas) sangat bersifat mengikat dengan adanya penjelasan dalam ayat Allah yang lain melarang semua ke medan perang dan mesti ada dari meraka yang pergi menuntut ilmu kemudian pulang memberi penerang bagi kaumnya.
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (Surat At-Taubah Ayat 122).

Peran aneuk buet dan  ulama

Sebelum kemerdekaan
Sekalipun masih dianak tirikan di negeri yang direbut dengan pekikan Allahu akbar ini, sudah tak terbantahkan lagi mereka punya andil  besar dalam merebut dan mendirikan bangsa ini.
Dalam upaya mengusir penjajahan kolonial Belanda, sikap para ulama yang kemudian diikuti oleh aneuk beut dan rakyat jelas terlihat dari usaha membentuk laskar mujahidin yang terdiri dari para aneuk beut dan masyarakat guna mengusir penjajahan dari bumi Serambi Mekkah. Hal ini terus berlanjut hingga perang revolusi mempertahankan kemerdekaan.

Puncak dari dukungan para ulama dan aneuk beut terhadap Republik Indonesia yang baru diproklamirkan adalah diterbitkannya "Maklumat Ulama Seluruh Aceh" tanggal 15 oktober 1945. Maklumat ini berisi fatwa bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah sama dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil (jihad fi sabilillah), dan merupakan sambungan dari perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan  Tgk. Chik di Tiro, dan pahlawan-pahlawan kebangsaan yang lain. Maklumat penting ini diprakarsai dan ditanda-tangani oleh empat ulama besar yaitu Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Tgk. Muhammad Daud Beureueh, Tgk. H. Dja'far Sidik Lamjabat, dan Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri, serta diketahui oleh Teuku Nyak Arief selaku residen Aceh dan di setujui oleh Tuanku Mahmud selaku ketua Komite Nasional. (Sumber buku biografi Abu Hasan Krueng Kalee).

Keluarnya maklumat ulama seluruh Aceh tersebut sangat memberi dampak positif bagi pemerintahan baru RI saat itu. Meski tidak sepenuhnya mewakili rakyat Aceh, maklumat tersebut sering ditafsirkan sebagai pernyataan dukungan politik resmi rakyat Aceh terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Disisi lain, maklumat itu  juga berdampak terhadap adanya dukungan fisik dan materil rakyat Aceh bagi membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Sehingga tidak mengherankan, dalam kunjungan pertama presiden Soekarno ke Aceh Juni 1948, ia menegaskan bahwa Aceh dan segenap rakyatnya adalah modal pertama bagi kemerdekaan Republik Indonesia.

Dua trik Snouck redam perlawanan pribumi Aceh

Realitas membuktikan bahwa  Belanda sangat kualahan melawan pergerakan ulama dan aneuk beut sehingga perlu dikirim sarjana ke Mekkah menjadi orientalis yang pada akhirnya dikirim ke Aceh dan Nusantara untuk mencari titik kelemahan kaum muslimin.

Pertama, Dikotomi Islam dan Politik, Kronologis terjadinya kecurigaan Belanda terhadap dayah  di Aceh dan Indonesia, karena dalam ajaran Islam pemerintahan Belanda merupakan pemerintahan kafir yang wajib dilawan dengan jihad fi sabilillah.

Hasil analisis Snouck Hurgronje Islam di Indonesia mesti pilah terbagi kepada dua bagian besar yaitu Islam sebagai religius yang menyarankan kepada pemerintah agar berlaku toleran agar tercipta ketenangan dan stabilitas, dan Islam sebagai politik yang harus dicurigai dan diawasi secara teliti darimana datangnya, terutama yang dipengaruhi oleh ulama dayah.

Salah satu teori yang ampuh digunakan oleh Snouck adalah teori Emile Durkheim, Beberapa taktik Pemerintah Belanda dalam memadamkan pergerakan dan perlawanan anuek beut  antara lain: depolitatsi (pemisahan agama dan politik ) ulama, aneuk beut dan rakyat. Juga para teungku rangkang dalam mengajarkan agama dalam pengawasan Belanda. Tersebab itu ada beberapa pemuda pilih mendalami agama pergi ke Yan Kedah, Malaysia.

Kedua, merusak  solidaritas, Dalam perkuliahan dan diskusi dengan penulis, menurut Kamaruzaman Bustamam Ahmad (KBA), Antropolog ternama Aceh, Snouck berhasil merubah paradigma orang muslim Aceh terhadap agama. Dari mendahulukan agama daripada adat ke mendahulukan adat daripada agama. Sehingga sering kita dapati ada orang yang meninggalkan salat  gara-gara peutimang adat. Dan juga saling hujat tersebab beda majlis taklim atau majlis zikir.
 Tipu muslihat itu sampai hari ini masih kentara terasa. Mungkin karena muslim Aceh terlampau percaya kepada teungku puteh (laqab Snouck) itu yang  konon hafiz Al Qur’an dan pernah menyamar menjadi muslim sehingga dipercayakan jadi imam di Mesjid Raya Baiturrahman. Mesjid kebanggaan orang Aceh.

Hikayat prang sabi bakar semangat juang muslim Aceh

Hikayat ini sendiri dikarang  Tgk. Chik Pante Kulu pada tahun 1881, atas perintah Tgk. Chik Di Tiro.  Menurut  sarjana Belanda bernama  Zentgraaf, hikayat Prang Sabi karangan ulama Aceh itu telah menjadi momok yang sangat ditakuti Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan, apalagi membaca hikayat Prang Sab, mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia-Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kembangan.

Sarjana Belanda ini menyimpulkan bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati kecuali hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu dari Aceh. Kalau pun ada karya sastrawan Perancis La Marseillaise dalam masa Revolusi Perancis, dan karya Common Sense dalam masa perang kemerdekaan Amerika, namun kedua karya sastra itu tidak sebesar pengaruh hikayat Prang Sabi yang dihasilkan Muhammad Pante Kulu. Senada juga yang dikatakan oleh Prof. Dr. Anthoni Reid, ahli sejarah bangsa Australia.

Awal kemerdekaan

Peran ulama dayah tak berhenti hanya sekedar memerdekakan Negara ini  dari penjajahan Belanda namun juga mengawalnya. Sebagaimana tercatat bahwa, setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tahun  1945-1946 dayah Darul Ihsan sekarang (dulu dayah Meunasah Blang) pernah menjadi markas laskar mujahidin untuk melawan  agresi Belanda I. ketika dipimpin oleh  Tgk Ibrahim Payed, wakil kepala Tgk Idris Lamnyong.

Tak berhenti  disitu. Tgk. Ali as Su’udy beserta para mujahidin dikerahkan untuk menjaga wilayah pesisir/pantai Aceh Besar dari masuknya kembali pasukan Belanda yang sudah berada di perairan Sabang.

Kwetika itu, sekitar lima puluh aneuk beut  dan para mujahidin juga dikirim untuk berperang di Medan Area (Besitang dan Pangkalan Brandan di Sumatera Utara) bergabung dengan pasukan tiga bataliyon Aceh lainnya. Yaitu Bataliyon Kolonel Tgk Nurdin (murid Abu Hasan Krueng Kalee), Bataliyon Teuku Hamzah  dan Bataliyon Yusuf. Kemudian hari dari itu, Dayah Darul Ihsan  juga pernah menjadi markas Persindo pimpinan Tgk. Syekh Marhaban, Ali Hasjimi, dan Tgk Nurdin.

Menjaga Kedaulatan NKRI

Peran ulama besar Aceh memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Ketika terjadi konflik DI/TII Aceh yang dipimpin oleh Tgk Daud Beureueh para ulama kaum tua, Abu Hasan Krueng Kalee Abuya Muda Waly, Teungku Abdul Salam Meuraksa, Teungku Saleh Mesigit Raya dan ulama lainnya tidak mendukung gerakan ini bahkan Tgk Syihabuddin Syah (Abu Keumala) murid dari Abuya Waly dengan lantang mensosialiasi fatwa haram terlibat dalam DI/TII ban sigom Aceh  dan digolongkan mereka dalam ahli bughat (Separatis).

 Bahkan sampai hari ini tidak ada istilah kudeta pemerintahan yang sah dalam tiga besar organisasi Islam, yakni Perti-Tarbiyah, Nahdhatul Ulama dan Al-washliyah selama tidak dengan terang melawan perintah Allah SWT.

Kenapa jamaknya aneuk beut berjiwa militan? jawabnya adalah pada umumnya dayah membentuk manusia yang berjiwa ikhlas, berakhlaqul karimah, ta’dhim hormat dan  hubbul wathan (cinta tanah air). Itulah sebabnya penulis panjang lebar mengulas makna meudagang baik  yang tersirat maupun terlafadh.  


Hari ini, mulai dari Sabang sampai Merauke  kami kaum yang masih dimarjinalkan di negeri ini telah menyediakan generasi terbaiknya kami menjadi tokoh pergerakan, menteri, pahlwan hatta  Presiden.
Ayoo Tolak lupa!!! Mari sejenak kita membaca Naskah Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga; “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.


Pertama, bahwa Tugu Emas di Monas dan pesawat RI-01 itu hasil patungan kucuran keringat orang  muslim Aceh, tentunya berkat  seruan dari para ulama dayah.

Kedua, Ramadhan adalah saksi sejarah puncak perjuangan kemerdekaan para ulama dan aneuk beut bersama umat Islam. (Jum’at, 9 Ramadhan 1334 H/17 Agustus 1945).

Ketiga, Allah sudah persiapkan Indonesia menjadi Negara muslim terbesar di dunia bukanlah kebetulan tapi sudah tercatat di Lauhul Mahfudz.

Keempat, tambah sendiri. sebagai pemantik penulis mulakan dengan kata-kata nabi Sulaiman as ketika melihat kebesaran Allah mendatang singgahsana Ratu Balqis dalam sekejab mata “Haaza min fadhli rabbi (ini termasuk kurnia Tuhanku Allah).

Penulis adalah; Guru Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Alumni dayah Darul Muarrif Lam Ateuk dan BUDI Lamno, Sektaris Jenderal Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA) dan juga Panitia Lomba menulis hari Santri Nasional II.  Email: risalahbuyawoyla@gmail.com





Darul Ihsan kembali wakili 4 Cabang MQK VI Nasional JATIM

Musabaqah Tilawatil Kutub (MQK), Jambi, September 2014
Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee kembali wakili 4 Cabang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) - VI Tingkat Nasional di Jawa Timur November mendatang, setelah lulus seleksi Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, di Hotel Jeumpa, Banda Aceh (19/9/2017).
Berikut nama dan cabang yang lulus; Kana Rahmi (Balaghah Ulya Putri), Marjanul Hayat (Tarikh Wustha Putra), Radhwa Yasmin (Tarikh Wustha Putri), dan Alvia Hasli Ramadhan (Debat Bahasa Arab Putri).
Ketua Lembaga Bahasa Darul Ihsan, Ustadz H. Muakhir Zakaria, MA mengatakan, Alhamdulillah kali ini juga masih bertahan mengirim empat utusan walaupun sedikit berbeda cabang. Semoga utusan yang kita kirim dapat mengharumkan nama dayah Aceh di tingkat Nasional.
Ustadz Muakhir menjabarkan, Pada MQK KE- V 2014 di Jambi kita juga mengirim empat wakil, Muhammad Akmal (Debat Bahasa Arab), Rifqi Rizqullah (Debat Bahasa Arab), Kana Rahmi (Fiqh Ulya Putri), dan Raudhah Marzuki (Akhlak Ulya Putri) dan Alhamdulillah waktu juga menjuarai beberapa cabang. (MHW)




‎Aceh Harus Merdeka Menjalankan Syariat Islam

Saat ini, masyarakat dan bangsa ini tengah merayakan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 pada 17 Agustus 2017. Merdeka diartika terlepas dari segala belenggu penjajahan baik lahir maupun batin dalam berbagai bentuk.

Sementara bagi umat Islam, hakikat kemerdekaan dan kebebasan itu sendiri dimaknai dengan mendapatkan segala hak dan menunaikan kewajibannya sesuai ajara agamanya, yang diperintahkan Allah SWT, dengan tidak tunduk dan patuh kepada selain-Nya.

Khusus bagi masyarakat Aceh yang sudah resmi mendapatkan legalitas dari negara dengan aturan perundang-undangan yang ada untuk menjalankan syariat Islam secara kaffah, maka segala aturan hukum agama itu harus bisa dilaksanakan dengan penuh kebebasan dan merdeka tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

Demikian antara lain disampaikan Ulama Mesir, Syeikh Abu Muaz Muhammed Abdul Hay al-Uwenah Al-Mishri saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (16/8/2017) malam.

"Makna kemerdekaan yang hakiki bagi kita muslim adalah tidak mengikuti dan tunduk pada seseorang selain apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT. Begitu juga dengan Aceh, harus bisa merdeka dan bebas ‎menjalankan segala aturan hukum Allah dengan diberlakukannya syariat Islam di daerah mulia ini," ujar Syeikh Abu Muaz.


Syaikhul makhad Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee dari  Mesir ini menambahkan, sudah diberikannya hak khusus kepada Aceh sebagai satu-satunya provinsi di negara ini untuk menerapkan aturan syariat Islam oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia dengan sebuah Undang-undang khusus sejak beberapa belas tahun silam, ini bisa dikatakan merupakan awal dari kemerdekaan Aceh untuk bisa hidup dan tunduk pada aturan Islam secara kaffah.

Karena ini merupakan suatu pilihan kebenaran bagi umat Islam di Aceh, maka jangan ragu atau terpengaruh sedikitpun dengan berbagai godaan untuk meninggalkannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 147 yang artinya, "Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu dan meninggalkannya”.

"Hari ini Aceh sudah mendapatkan kemerdekaan untuk dapat menjalankan syariat Islam, dan karenanya kita bisa tanyakan kepada umat Islam Aceh, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam menjalankan syariat Allah ini atau masih ada hal-hal yang membelenggu syariat, tentu jawabannya ada diri masing-masing umat Islam di daerah ini," kata Abu Muaz yang didampingi penterjemahnya, Ustaz Muakhir Zakaria, S.Pd. I, MA selaku ketua Lembaga Bahasa Dayah Darul Ihsan.


Menurutnya, menjadi iman atau kufur kepada Allah SWT adalah suatu pilihan bagi umat manusia di muka bumi ini, dan Allah mempersilahkan untuk memilih apa saja sesuai keinginan hatinya dan tentunya akan menerima segala konsekuensi dari apa yang telah dipilihnya itu. Jika memilih beriman kepada Allah balasannya adalah surga dan jika memilih kufur balasannya adalah neraka sebagai tempat siksaan yang amat pedih.

"Tugas kita, ingatkanlah mereka untuk memilih yang benar, tapi bukan kita bukan orang yang memaksa pilihan mereka. Jika seseorang sudah memilih dan mengakui tiada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW utusan Allah maka seseorang itu harus memerdekakan dirinya dari ketergantungan kepada selain Allah SWT. Kita membebaskan diri dari hukum-hukum selain Allah SWT, artinya hanya bergantung kepada hukum Allah," ungkapnya.‎

Pada kesempatan tersebut, Syeikh Abu Muaz juga menjelaskan, kisah penjajahan yang dialami oleh negara-negara Islam sejak dulu zaman kekhalifahan Turki Usmani hingga mencapai kemerdekaan secara fisik sekarang ini, namun masih terjajah secara mental dan pikiran yang dibelenggu penjajah dari negara-nagara Eropa dan Barat di luar Islam.

"Hari ini masih banyak negara-negara Islam yang mengaku sudah merdeka dan berdaulat terjajah oleh negara-negara Islam, mentalnya, pemikirannya masih bisa diatur dan mengikuti apa maunya negara-negara barat dan Eropa sehingga umat Islam di negara tersebut menjadi lemah," sebutnya.

Salah satu tanda negara-negara Islam terjajah saat ini, lanjut Syeikh Abu Muaz adalah, ketika Palestina dicaplok dan dijajah oleh Israel sejak puluhan tahun silam hingga sekarang, banyak negara Islam yang diam saja, seolah-olah merestui apa dilakukan Israel dan koleganya Amerika dengan membantai umat Islam di Palestina, tanpa berbuat apapun untuk mencegahnya. 
(Mustafa W)

Dukung Kemerdekaan RI dengan MAKLUMAT ULAMA SELURUH ACEH

MAKLUMAT ULAMA SELURUH ACEH
(Bahasa disesuaikan dengan EYD)
                                             

Perang dunia kedua yang maha dahsyat telah tamat. Sekarang di Barat dan di Timur oleh 4 Kerajaan yang besar sedang diatur perdamaian dunia yang abadi untuk keselamatan makhluk Allah. Dan Indonesia tanah tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia dibawah pimpinan dari yang mulia maha pemimpin kita Ir. SOEKARNO.
Belanda adalah satu kerajaan yang kecil serta miskin. Satu negeri yang kecil lehih kecil dari daerah Aceh dan telah hancur lebur. Mereka sudah bertindak melakukan kedhalimannya kepada tanah air kita Indonesia yang sudah merdeka dan menolak dijajahnya kembali.
Kalau maksud yang jahanam itu berhasil maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas semua harta benda negara dan harta rakyat dan segala kekayaan yang telah kita kumpulkan selama ini musnah sama sekali. Mereka akan memperbudakkan rakyat Indonesia menjadi hambanya kembali dan menjalankan usaha untuk menghapus Agama Islam kita yang suci serta menindas dan menghamhat kemuliaan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
Di jawa bangsa Belanda serta kaki tangannya telah melakukan keganasannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia hingga terjadi pertempuran di beberapa tempat yang akhirnya kemenangan berada di pihak kita. Sungguhpun begitu mereka belum juga insaf.
Segenap lapisan rakyat telah bersatu padu dengan patuh berdiri di belakang maha pemimpin Ir. SOEKARNO untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan.
Menurut keyakinan kami bahwa perjuangan ini adalah perjuangan suci yang disebut "PERANG SABIL ".
Maka percayalah wahai bangsaku, bahwa perjuangan ini adalah sebagai sambungan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin oleh Almarhum Tgk. Ci di Tiro dan pahlawan pahlawan kehangsaan yang lain.
Dari sebab itu bangunlah wahai bangsaku sekalian, bersatu padu menyusun bahu mengangkat langkah maju kemuka untuk mengikat jejak perjuangan nenek kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan Tanah Air, Agama dan Bangsa.
Kutaraja, 15 - 10 - 1945.
Atas nama Ulama Seluruh Aceh.
Tgk. Haji Hasan Krueng Kale
 Tgk. M. Daud Beureureh
Tgk. Haji Dja far Sidik Tgk. Haji Ahmad
Lamjabat Hasballah Indrapuri
Disetujui oleh: Diketahui oleh:
Ketua Komite Nasional Daerah Aceb Residen Aceh

Tuwanku Mahmud T. Nyak Arief 

Sumber:
Mutiara Fahmi Razali Dkk, Tengku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee (Banda Aceh: Yayasan Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Krueng Kalee, 2010).

DUA ALUMNI DARUL IHSAN, RAIH JUARA PERUNGGU DEBAT BAHASA ARAB DI PIONIR VIII

Muhammad Akmal dan Rifqi Rizqullah menerima medali perunggu di PIONIR 2017

Banda Aceh – Muhammad Akmal dan Rifqi Rizqullah berhasil  meraih Perunggu (Juara III) debat bahasa Arab di Pekan Ilmiah, Olahrga, Seni dan Riset (PIONIR) VIII. sementara medali emas diraih oleh UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.  Medali perak diraih oleh UIN Syarif Hidayatullah. Perhelatan Akbar ini diikuti oleh 50 PTAIN Se-Indonesia di Kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, (30/4/2017). 

“Untuk berhasil menjadi peserta PIONIR  Muhammad Akmal dan Rifqi Rizqullah mesti  unggul dari delapan kelompok  seleksi  tingkat UIN Ar-Raniry. Tantangan yang lebih besar lagi ketika melewati tiga  babak penyisihan.  UIN Ar-Raniry tergabung bersama IAIN Bukit Tinggi, IAIN Kediri, UIN Sunan Ampel, IAIN Purwokerto. Alhamdulillah UIN Ar-Raniry lolos ke babak 16. Dibabak 16 UIN Ar-Raniry bertemu UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Gunung Djati Bandung dan IAIN Kediri,” terang Rifqi didampingi oleh Muhammad Akmal. 

“kami bersyukur  UIN Ar-Raniry dan UIN Jogja lolos ke babak 8 besar. Di babak 8 besar UIN Ar-Raniry berjumpa UIN Jogja, STAIN Kudus, IAIN Jember, UIN Ar-Raniry  dan UIN Jogja lolos ke babak final. Di babak final  dipertemukan 4 tim unggul yg terbagi  2 tim Pro dan kontra.  tim pro UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh sedangkan tim kontra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Raden Intan Lampung,’’ tambah dua  alumni terbaik Darul Ihsan tersebut.

Dr. Syahminan M. Ag  sebagai  ketua  Language Development Center (LDC) mengatakan, kami  bersyukur hasil capaian  mahasiswa bahasa Arab. Walaupun tidak  meraih juara  I namun sudah ada peningkatan. Tahun sebelumnya  Di PIONIR ke VII Palu, UIN Ar-Raniry hanya mendapatkan juara 4. (MHW)


Pengumuman Kelulusan Santri Baru Tingkat MTs, MA dan SMK Darul Ihsan TP 2017/2018







Darul Ihsan Kembali Buka Seleksi Santri Baru Tahun Pelajaran 2017/2018

Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee kembali menerima santri baru tahun pelajaran 2017/2018

 Informasi lebih lanjut hubungi Contact Person;

Ust Mustafa Woyla 0852 7714 9334
Ust Attaillah 0812 6947 463
Ust Murtadha 0852 9654 7121
Ust Edi Syuhada 0852 6016 5765
Ust Faisal Anwar 0822 7478 1145

Syarat, Waktu Pendaftaran dan Biaya

CARA MENDAFTAR

1.       Mengisi Formulir pendaftaran sesuai dengan lengkap.
2.       Melampirkan Fotokopi Rapor 3 semester terakhir.
3.       Pasfoto 3x4 2 lembar dan 2x3  2 lembar.
4.       Mengikuti tes/ujian masuk dengan sempurna.

SYARAT PENDAFTARAN ULANG
1.      Lulus tes/ujian masuk.
2.      Melengkapi berkas adminitrasi sebagai berikut:
a.       3 lembar Fotokopi  ijazah terlegalisir
b.       3 lembar  Fotokopi SKHUN khusus lulusan MTs/SMP
c.        1 lembar Fotokopi kartu NISN/surat keterangan NISN dari sekolah asal.
d.           2 lembar Fotokopi KK dan KTP Orang Tua/Wali
e.       2 Lembar fotokopi Akte Kelahiran
3. Melunasi biaya masuk

WAKTU PENDAFTARAN DAN TESTING

1.      Pengambilan formulir/pendaftaran mulai tanggal 5 Maret s/d 25 Maret 2017.
Setiap hari pukul 09.00 s/d 13.15 WIB dan pukul 16.30 s/d 18.00 WIB.
2.      Tes/ujian masuk tanggal 26 Maret 2017
3.      Pengumuman kelulusan tanggal 28 Maret 2017.
(Dilihat di Dayah atau Website: darulihsanabuhasan.com)
4.      Pendaftaran ulang mulai tanggal 28 Maret s/d 9 April 2017 pukul 09.00 s/d 13.15 WIB dan pukul 16.30 s/d 18.00 WIB.

MATERI UJIAN LISAN
Bacaan Al-Quran, Tajwid, pengetahuan agama dan wawancara.

MATERI UJIAN TULISAN

Pengetahuan agama, Matematika, Ilmu alam dan sosial. Khusus calon siswa Madrasah Aliyah ditambah bahasa Arab dan bahasa Inggris.


BIAYA
Biaya pendaftaran                                                       Rp.     100.000
Biaya Pembangunan (Sekali selama di Dayah)       Rp.  3.000.000
Biaya Asrama                                                              Rp.    275.000/tahun
Biaya Lemari dan Kasur                                             Rp.   1.300.000          
Biaya seragam batik, olahraga, simbol dan nama   Rp.      250.000
Jumlah                                   Rp.    4.925.000
Iuran Bulanan bulan pertama                                    Rp.       625.000

TOTAL                                  Rp.    5.550.000








Serial Hadis Nabi dan Sejarah Islam 4: Sosok si Gerbang Ilmu: Ali Bin Abi Thalib



NAJIHA SABRINA Alumni Darul Ihsan 


Oleh: Najiha Sabrina
“Janganlah salah seorang dari kalian malu untuk belajar jika tidak mengetahui sesuatu. Janganlah orang yang jahil merasa malu untuk bertanya atas apa yang tidak ia ketahui.”
Ali bin Abi Thalib memiliki nama lengkap Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab. Ia adalah sahabat, sepupu serta menantu dari Rasulullah saw. Ali juga salah seorang yang pertama kali memeluk agama Islam dari kalangan anak-anak (assabiqun al-awwalun). (Al-Quraibi: 2009)

Sahabat yang lahir pada tahun kesepuluh kenabian ini merupakan seorangAlim lagi Faqih. Ilmu yang dimilikinya seluas lautan dan sedalam samudera. Dalam satu riwayat Ibnu Abbas mengatakan, bahwa Rassulullah saw. bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya (gerbangnya, pen.). Barang siapa menghendaki ilmu, ia harus mendatangi pintunya.” Tidak berlebihan memang, Rasulullah mengatakan hal yang demikian, keilmuan Ali yang sangat luas tersebut sudah diakui oleh seluruh penduduk di penjuru dunia, bahkan dari kalangan sahabat tidak ada yang menyangkalnya.

Suatu ketika Ibnu Abbas mengatakan, “Ali telah dianugerahi sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan, demi Allah, ia bahkan memiliki pula sepersepuluh ilmu yang dianugerahkan kepada mereka.” Maksud perkataan tersebut adalah dari sembilan ilmu yang dianugerahi kepadanya, Ali juga menguasai sepersepuluh ilmu lainnya yang dianugerahkan kepada para sahabat (Kinas: 2012). Tidak hanya itu, khalifah Umar bin Khattab bila ia menghadapi persoalan yang sukar dan rumit serta kesulitan dalam mencari solusinya, maka ia akan menghadap kepada Ali untuk mendapatkan solusi dalam menyelesaikan persoalan tersebut (Sunarto: 2013).
Artikel Najiha Sabrina dimuat di Website UIN Sunan Kali Jaga 
Semenjak kanak-kanak tinggal dan hidup bersama Rasulullah membuat sosok Ali menjadi pribadi yang tangguh dan berpengetahuan luas. Suatu hari, Ali pernah berujar, “sepanjang hidupku bersama Rasulullah saw., tidak pernah sekalipun mataku terpejam dan kepalaku terbaring tidur kecuali aku mengetahui pada hari itu apa yang diturunkan oleh Jibril a.s. tentang yang halal dan yang haram atau tentang yang sunnah, atau kitab, atau perintah dan larangan, dan tentang siapakah ayat itu turun.” (Kinas: 2012).

Dalam buku Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib karya Dr. Musthafa Murad dituliskan bahwa Ali mencapai keistimewaan bidang ilmu karena dua sebab.Pertama, karena anugerah yang Allah berikan kepadanya beupa akal yang cerdas dan lisan yang fasih. Kedua, Rasulullah selalu mendorong Ali untuk mencari ilmu. Ali r.a. berkata,”Jika aku bertanya, aku pasti mendapatkan jawaban dan jika aku diam, beliau (Rasulullah) akan mengajariku.”
Walau demikian, ada sebagian orang yang menolak keutamaan Ali ibn Abi Thalib dalam bidang keilmuan dan pemahaman syariat, diantaranya adalah kalangan Qadariyah dan Khawarij.
Ada beberapa nasihat Ali ibn Abi Thalib kepada umat yang menggetarkan jiwa, salah satunya dalam hal untuk tidak meninggalkan menuntut ilmu dikarenakan malu, “Janganlah salah seorang dari kalian malu untuk belajar jika tidak mengetahui sesuatu. Janganlah orang yang jahil merasa malu untuk bertanya atas apa yang tidak ia ketahui.”, nasihat tersebut memberikan pencerahan kepada penuntut ilmu agar tidak malu dan ragu dalam bertanya bila ia tidak mengethui mengenai hal tersebut, begitu pula bagi orang yang jahil.

Selain itu, Ali ibn Abi Thalib pada lain waktu menuturkan mengenai keutamaan ilmu bila disandingkan dengan harta, “Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjaga pemiliknya sedang harta dijaga oleh pemiliknya. Ilmu semakin bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta semakin berkurang dengan disedekahkan. Ilmu menjadi penguasa, sedang harta dikuasai. Kebaikan yang didasarkan pada harta seseorang akan hilang seiring habisnya harta tersebut, sementara kecintaaan terhadap orang yang berilmu tidak akan habis walaupun orang yang berilmu tersebut telah tiada namun ilmunya senantiasa selalu diamalkan. Ilmu akan mendatangkan ketaatan bagi pemiliknya dan kenangan indah setelah kematiannya. Orang-orang yang suka menggadang harta, mereka seperti mati meski jasadnya masih hidup, sementara orang-orang yang memiliki banyak ilmu, mereka senantiasa hidup meski nyawa telah berpisah dari raga. Jasad mereka telah tiada, namun jasa mereka kekal dan akan selalu dikenang didalam hati setiap orang” (ash-Shalabi: 2008).

Dari pemaparan diatas, jelas sudah mengapa Rasulullah mengatakan Ali ibn Abi Thalib sebagai gerbang ilmu (bab al ilm). Menjalani kehidupan bersama Rasulullah serta dianugerahi akal yang cerdas dan lisan yang fasih merupakan salah satu alasannya. Namun, walaupun demikian, Ali tetaplah seorang hamba Allah yang tidak pernah sekalipun merasa lebih tinggi kedudukannya diantara umat, Ali tetap mejadi orang yang wara’ dan zuhud. Baginya, ilmu yang dimilikinya serta dunia yang ditinggalinya hanyalah titipan semata. Dan akhirat adalah tempat kembali yang kekal dan abadi.

Sebagai generasi pelurus serta penerus bangsa sudah sepatutnya kita menjadikan sosok Ali ibn Abi Thalib sebagai panutan dalam bidang keilmuan. Ada satu perkataan Ali r.a. yang masyhur mengenai pentingnya ilmu:
Ilmu berbisik kepada amal
Dan amal mesti menjawabnya
Jika tidak, ilmu menjadi sia-sia.
*Najiha Sabrina, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis, Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Daftar Pustaka
Al-Quraibi, Ibrahim. 2009. Tarikh Khulafa’, Terj. Faris Khairul Anam. Jakarta Timur: Qisthi Press.
Ash-Shalabi, Ali Muhammad. 2012. Biografi Ali bin Abi Thalib, Terj. Muslich Taman, Akmal Burhanudin, dan Ahmad Yaman. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Kinas, Raji Hasan. 2012. Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi: Menyimak Kisah Hidup 154 Wisudawan Madrasah Rasulullah SAW. Terj. Nurhasan Humaedi, Banani Bahrul-Hasan, Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Zaman.
Murad, Musthafa. 2013. Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib, Terj. Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Zaman.
Sunarto, Ahmad. 2013. Ensiklopedi Biografi Nabi Muhammad SAW dan Tokoh-Tokoh Besar Islam: Panutan dan Teladan Bagi Umat Sepanjang Masa. Jakarta: Widya Cahaya Jakarta.
 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved