"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"

Yayasan

Entri Populer

Fasilitas


Struktur Pengurus

Galery Siswa (i)

Darul Ihsan kembali wakili 4 Cabang MQK VI Nasional JATIM

Musabaqah Tilawatil Kutub (MQK), Jambi, September 2014
Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee kembali wakili 4 Cabang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) - VI Tingkat Nasional di Jawa Timur November mendatang, setelah lulus seleksi Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, di Hotel Jeumpa, Banda Aceh (19/9/2017).
Berikut nama dan cabang yang lulus; Kana Rahmi (Balaghah Ulya Putri), Marjanul Hayat (Tarikh Wustha Putra), Radhwa Yasmin (Tarikh Wustha Putri), dan Alvia Hasli Ramadhan (Debat Bahasa Arab Putri).
Ketua Lembaga Bahasa Darul Ihsan, Ustadz H. Muakhir Zakaria, MA mengatakan, Alhamdulillah kali ini juga masih bertahan mengirim empat utusan walaupun sedikit berbeda cabang. Semoga utusan yang kita kirim dapat mengharumkan nama dayah Aceh di tingkat Nasional.
Ustadz Muakhir menjabarkan, Pada MQK KE- V 2014 di Jambi kita juga mengirim empat wakil, Muhammad Akmal (Debat Bahasa Arab), Rifqi Rizqullah (Debat Bahasa Arab), Kana Rahmi (Fiqh Ulya Putri), dan Raudhah Marzuki (Akhlak Ulya Putri) dan Alhamdulillah waktu juga menjuarai beberapa cabang. (MHW)




‎Aceh Harus Merdeka Menjalankan Syariat Islam

Saat ini, masyarakat dan bangsa ini tengah merayakan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 pada 17 Agustus 2017. Merdeka diartika terlepas dari segala belenggu penjajahan baik lahir maupun batin dalam berbagai bentuk.

Sementara bagi umat Islam, hakikat kemerdekaan dan kebebasan itu sendiri dimaknai dengan mendapatkan segala hak dan menunaikan kewajibannya sesuai ajara agamanya, yang diperintahkan Allah SWT, dengan tidak tunduk dan patuh kepada selain-Nya.

Khusus bagi masyarakat Aceh yang sudah resmi mendapatkan legalitas dari negara dengan aturan perundang-undangan yang ada untuk menjalankan syariat Islam secara kaffah, maka segala aturan hukum agama itu harus bisa dilaksanakan dengan penuh kebebasan dan merdeka tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

Demikian antara lain disampaikan Ulama Mesir, Syeikh Abu Muaz Muhammed Abdul Hay al-Uwenah Al-Mishri saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (16/8/2017) malam.

"Makna kemerdekaan yang hakiki bagi kita muslim adalah tidak mengikuti dan tunduk pada seseorang selain apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT. Begitu juga dengan Aceh, harus bisa merdeka dan bebas ‎menjalankan segala aturan hukum Allah dengan diberlakukannya syariat Islam di daerah mulia ini," ujar Syeikh Abu Muaz.


Syaikhul makhad Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee dari  Mesir ini menambahkan, sudah diberikannya hak khusus kepada Aceh sebagai satu-satunya provinsi di negara ini untuk menerapkan aturan syariat Islam oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia dengan sebuah Undang-undang khusus sejak beberapa belas tahun silam, ini bisa dikatakan merupakan awal dari kemerdekaan Aceh untuk bisa hidup dan tunduk pada aturan Islam secara kaffah.

Karena ini merupakan suatu pilihan kebenaran bagi umat Islam di Aceh, maka jangan ragu atau terpengaruh sedikitpun dengan berbagai godaan untuk meninggalkannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 147 yang artinya, "Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu dan meninggalkannya”.

"Hari ini Aceh sudah mendapatkan kemerdekaan untuk dapat menjalankan syariat Islam, dan karenanya kita bisa tanyakan kepada umat Islam Aceh, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam menjalankan syariat Allah ini atau masih ada hal-hal yang membelenggu syariat, tentu jawabannya ada diri masing-masing umat Islam di daerah ini," kata Abu Muaz yang didampingi penterjemahnya, Ustaz Muakhir Zakaria, S.Pd. I, MA selaku ketua Lembaga Bahasa Dayah Darul Ihsan.


Menurutnya, menjadi iman atau kufur kepada Allah SWT adalah suatu pilihan bagi umat manusia di muka bumi ini, dan Allah mempersilahkan untuk memilih apa saja sesuai keinginan hatinya dan tentunya akan menerima segala konsekuensi dari apa yang telah dipilihnya itu. Jika memilih beriman kepada Allah balasannya adalah surga dan jika memilih kufur balasannya adalah neraka sebagai tempat siksaan yang amat pedih.

"Tugas kita, ingatkanlah mereka untuk memilih yang benar, tapi bukan kita bukan orang yang memaksa pilihan mereka. Jika seseorang sudah memilih dan mengakui tiada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW utusan Allah maka seseorang itu harus memerdekakan dirinya dari ketergantungan kepada selain Allah SWT. Kita membebaskan diri dari hukum-hukum selain Allah SWT, artinya hanya bergantung kepada hukum Allah," ungkapnya.‎

Pada kesempatan tersebut, Syeikh Abu Muaz juga menjelaskan, kisah penjajahan yang dialami oleh negara-negara Islam sejak dulu zaman kekhalifahan Turki Usmani hingga mencapai kemerdekaan secara fisik sekarang ini, namun masih terjajah secara mental dan pikiran yang dibelenggu penjajah dari negara-nagara Eropa dan Barat di luar Islam.

"Hari ini masih banyak negara-negara Islam yang mengaku sudah merdeka dan berdaulat terjajah oleh negara-negara Islam, mentalnya, pemikirannya masih bisa diatur dan mengikuti apa maunya negara-negara barat dan Eropa sehingga umat Islam di negara tersebut menjadi lemah," sebutnya.

Salah satu tanda negara-negara Islam terjajah saat ini, lanjut Syeikh Abu Muaz adalah, ketika Palestina dicaplok dan dijajah oleh Israel sejak puluhan tahun silam hingga sekarang, banyak negara Islam yang diam saja, seolah-olah merestui apa dilakukan Israel dan koleganya Amerika dengan membantai umat Islam di Palestina, tanpa berbuat apapun untuk mencegahnya. 
(Mustafa W)

Dukung Kemerdekaan RI dengan MAKLUMAT ULAMA SELURUH ACEH

MAKLUMAT ULAMA SELURUH ACEH
(Bahasa disesuaikan dengan EYD)
                                             

Perang dunia kedua yang maha dahsyat telah tamat. Sekarang di Barat dan di Timur oleh 4 Kerajaan yang besar sedang diatur perdamaian dunia yang abadi untuk keselamatan makhluk Allah. Dan Indonesia tanah tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia dibawah pimpinan dari yang mulia maha pemimpin kita Ir. SOEKARNO.
Belanda adalah satu kerajaan yang kecil serta miskin. Satu negeri yang kecil lehih kecil dari daerah Aceh dan telah hancur lebur. Mereka sudah bertindak melakukan kedhalimannya kepada tanah air kita Indonesia yang sudah merdeka dan menolak dijajahnya kembali.
Kalau maksud yang jahanam itu berhasil maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas semua harta benda negara dan harta rakyat dan segala kekayaan yang telah kita kumpulkan selama ini musnah sama sekali. Mereka akan memperbudakkan rakyat Indonesia menjadi hambanya kembali dan menjalankan usaha untuk menghapus Agama Islam kita yang suci serta menindas dan menghamhat kemuliaan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
Di jawa bangsa Belanda serta kaki tangannya telah melakukan keganasannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia hingga terjadi pertempuran di beberapa tempat yang akhirnya kemenangan berada di pihak kita. Sungguhpun begitu mereka belum juga insaf.
Segenap lapisan rakyat telah bersatu padu dengan patuh berdiri di belakang maha pemimpin Ir. SOEKARNO untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan.
Menurut keyakinan kami bahwa perjuangan ini adalah perjuangan suci yang disebut "PERANG SABIL ".
Maka percayalah wahai bangsaku, bahwa perjuangan ini adalah sebagai sambungan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin oleh Almarhum Tgk. Ci di Tiro dan pahlawan pahlawan kehangsaan yang lain.
Dari sebab itu bangunlah wahai bangsaku sekalian, bersatu padu menyusun bahu mengangkat langkah maju kemuka untuk mengikat jejak perjuangan nenek kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan Tanah Air, Agama dan Bangsa.
Kutaraja, 15 - 10 - 1945.
Atas nama Ulama Seluruh Aceh.
Tgk. Haji Hasan Krueng Kale
 Tgk. M. Daud Beureureh
Tgk. Haji Dja far Sidik Tgk. Haji Ahmad
Lamjabat Hasballah Indrapuri
Disetujui oleh: Diketahui oleh:
Ketua Komite Nasional Daerah Aceb Residen Aceh

Tuwanku Mahmud T. Nyak Arief 

Sumber:
Mutiara Fahmi Razali Dkk, Tengku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee (Banda Aceh: Yayasan Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Krueng Kalee, 2010).

DUA ALUMNI DARUL IHSAN, RAIH JUARA PERUNGGU DEBAT BAHASA ARAB DI PIONIR VIII

Muhammad Akmal dan Rifqi Rizqullah menerima medali perunggu di PIONIR 2017

Banda Aceh – Muhammad Akmal dan Rifqi Rizqullah berhasil  meraih Perunggu (Juara III) debat bahasa Arab di Pekan Ilmiah, Olahrga, Seni dan Riset (PIONIR) VIII. sementara medali emas diraih oleh UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.  Medali perak diraih oleh UIN Syarif Hidayatullah. Perhelatan Akbar ini diikuti oleh 50 PTAIN Se-Indonesia di Kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, (30/4/2017). 

“Untuk berhasil menjadi peserta PIONIR  Muhammad Akmal dan Rifqi Rizqullah mesti  unggul dari delapan kelompok  seleksi  tingkat UIN Ar-Raniry. Tantangan yang lebih besar lagi ketika melewati tiga  babak penyisihan.  UIN Ar-Raniry tergabung bersama IAIN Bukit Tinggi, IAIN Kediri, UIN Sunan Ampel, IAIN Purwokerto. Alhamdulillah UIN Ar-Raniry lolos ke babak 16. Dibabak 16 UIN Ar-Raniry bertemu UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Gunung Djati Bandung dan IAIN Kediri,” terang Rifqi didampingi oleh Muhammad Akmal. 

“kami bersyukur  UIN Ar-Raniry dan UIN Jogja lolos ke babak 8 besar. Di babak 8 besar UIN Ar-Raniry berjumpa UIN Jogja, STAIN Kudus, IAIN Jember, UIN Ar-Raniry  dan UIN Jogja lolos ke babak final. Di babak final  dipertemukan 4 tim unggul yg terbagi  2 tim Pro dan kontra.  tim pro UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh sedangkan tim kontra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Raden Intan Lampung,’’ tambah dua  alumni terbaik Darul Ihsan tersebut.

Dr. Syahminan M. Ag  sebagai  ketua  Language Development Center (LDC) mengatakan, kami  bersyukur hasil capaian  mahasiswa bahasa Arab. Walaupun tidak  meraih juara  I namun sudah ada peningkatan. Tahun sebelumnya  Di PIONIR ke VII Palu, UIN Ar-Raniry hanya mendapatkan juara 4. (MHW)


Pengumuman Kelulusan Santri Baru Tingkat MTs, MA dan SMK Darul Ihsan TP 2017/2018







Darul Ihsan Kembali Buka Seleksi Santri Baru Tahun Pelajaran 2017/2018

Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee kembali menerima santri baru tahun pelajaran 2017/2018

 Informasi lebih lanjut hubungi Contact Person;

Ust Mustafa Woyla 0852 7714 9334
Ust Attaillah 0812 6947 463
Ust Murtadha 0852 9654 7121
Ust Edi Syuhada 0852 6016 5765
Ust Faisal Anwar 0822 7478 1145

Syarat, Waktu Pendaftaran dan Biaya

CARA MENDAFTAR

1.       Mengisi Formulir pendaftaran sesuai dengan lengkap.
2.       Melampirkan Fotokopi Rapor 3 semester terakhir.
3.       Pasfoto 3x4 2 lembar dan 2x3  2 lembar.
4.       Mengikuti tes/ujian masuk dengan sempurna.

SYARAT PENDAFTARAN ULANG
1.      Lulus tes/ujian masuk.
2.      Melengkapi berkas adminitrasi sebagai berikut:
a.       3 lembar Fotokopi  ijazah terlegalisir
b.       3 lembar  Fotokopi SKHUN khusus lulusan MTs/SMP
c.        1 lembar Fotokopi kartu NISN/surat keterangan NISN dari sekolah asal.
d.           2 lembar Fotokopi KK dan KTP Orang Tua/Wali
e.       2 Lembar fotokopi Akte Kelahiran
3. Melunasi biaya masuk

WAKTU PENDAFTARAN DAN TESTING

1.      Pengambilan formulir/pendaftaran mulai tanggal 5 Maret s/d 25 Maret 2017.
Setiap hari pukul 09.00 s/d 13.15 WIB dan pukul 16.30 s/d 18.00 WIB.
2.      Tes/ujian masuk tanggal 26 Maret 2017
3.      Pengumuman kelulusan tanggal 28 Maret 2017.
(Dilihat di Dayah atau Website: darulihsanabuhasan.com)
4.      Pendaftaran ulang mulai tanggal 28 Maret s/d 9 April 2017 pukul 09.00 s/d 13.15 WIB dan pukul 16.30 s/d 18.00 WIB.

MATERI UJIAN LISAN
Bacaan Al-Quran, Tajwid, pengetahuan agama dan wawancara.

MATERI UJIAN TULISAN

Pengetahuan agama, Matematika, Ilmu alam dan sosial. Khusus calon siswa Madrasah Aliyah ditambah bahasa Arab dan bahasa Inggris.


BIAYA
Biaya pendaftaran                                                       Rp.     100.000
Biaya Pembangunan (Sekali selama di Dayah)       Rp.  3.000.000
Biaya Asrama                                                              Rp.    275.000/tahun
Biaya Lemari dan Kasur                                             Rp.   1.300.000          
Biaya seragam batik, olahraga, simbol dan nama   Rp.      250.000
Jumlah                                   Rp.    4.925.000
Iuran Bulanan bulan pertama                                    Rp.       625.000

TOTAL                                  Rp.    5.550.000








Serial Hadis Nabi dan Sejarah Islam 4: Sosok si Gerbang Ilmu: Ali Bin Abi Thalib



NAJIHA SABRINA Alumni Darul Ihsan 


Oleh: Najiha Sabrina
“Janganlah salah seorang dari kalian malu untuk belajar jika tidak mengetahui sesuatu. Janganlah orang yang jahil merasa malu untuk bertanya atas apa yang tidak ia ketahui.”
Ali bin Abi Thalib memiliki nama lengkap Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab. Ia adalah sahabat, sepupu serta menantu dari Rasulullah saw. Ali juga salah seorang yang pertama kali memeluk agama Islam dari kalangan anak-anak (assabiqun al-awwalun). (Al-Quraibi: 2009)

Sahabat yang lahir pada tahun kesepuluh kenabian ini merupakan seorangAlim lagi Faqih. Ilmu yang dimilikinya seluas lautan dan sedalam samudera. Dalam satu riwayat Ibnu Abbas mengatakan, bahwa Rassulullah saw. bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya (gerbangnya, pen.). Barang siapa menghendaki ilmu, ia harus mendatangi pintunya.” Tidak berlebihan memang, Rasulullah mengatakan hal yang demikian, keilmuan Ali yang sangat luas tersebut sudah diakui oleh seluruh penduduk di penjuru dunia, bahkan dari kalangan sahabat tidak ada yang menyangkalnya.

Suatu ketika Ibnu Abbas mengatakan, “Ali telah dianugerahi sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan, demi Allah, ia bahkan memiliki pula sepersepuluh ilmu yang dianugerahkan kepada mereka.” Maksud perkataan tersebut adalah dari sembilan ilmu yang dianugerahi kepadanya, Ali juga menguasai sepersepuluh ilmu lainnya yang dianugerahkan kepada para sahabat (Kinas: 2012). Tidak hanya itu, khalifah Umar bin Khattab bila ia menghadapi persoalan yang sukar dan rumit serta kesulitan dalam mencari solusinya, maka ia akan menghadap kepada Ali untuk mendapatkan solusi dalam menyelesaikan persoalan tersebut (Sunarto: 2013).
Artikel Najiha Sabrina dimuat di Website UIN Sunan Kali Jaga 
Semenjak kanak-kanak tinggal dan hidup bersama Rasulullah membuat sosok Ali menjadi pribadi yang tangguh dan berpengetahuan luas. Suatu hari, Ali pernah berujar, “sepanjang hidupku bersama Rasulullah saw., tidak pernah sekalipun mataku terpejam dan kepalaku terbaring tidur kecuali aku mengetahui pada hari itu apa yang diturunkan oleh Jibril a.s. tentang yang halal dan yang haram atau tentang yang sunnah, atau kitab, atau perintah dan larangan, dan tentang siapakah ayat itu turun.” (Kinas: 2012).

Dalam buku Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib karya Dr. Musthafa Murad dituliskan bahwa Ali mencapai keistimewaan bidang ilmu karena dua sebab.Pertama, karena anugerah yang Allah berikan kepadanya beupa akal yang cerdas dan lisan yang fasih. Kedua, Rasulullah selalu mendorong Ali untuk mencari ilmu. Ali r.a. berkata,”Jika aku bertanya, aku pasti mendapatkan jawaban dan jika aku diam, beliau (Rasulullah) akan mengajariku.”
Walau demikian, ada sebagian orang yang menolak keutamaan Ali ibn Abi Thalib dalam bidang keilmuan dan pemahaman syariat, diantaranya adalah kalangan Qadariyah dan Khawarij.
Ada beberapa nasihat Ali ibn Abi Thalib kepada umat yang menggetarkan jiwa, salah satunya dalam hal untuk tidak meninggalkan menuntut ilmu dikarenakan malu, “Janganlah salah seorang dari kalian malu untuk belajar jika tidak mengetahui sesuatu. Janganlah orang yang jahil merasa malu untuk bertanya atas apa yang tidak ia ketahui.”, nasihat tersebut memberikan pencerahan kepada penuntut ilmu agar tidak malu dan ragu dalam bertanya bila ia tidak mengethui mengenai hal tersebut, begitu pula bagi orang yang jahil.

Selain itu, Ali ibn Abi Thalib pada lain waktu menuturkan mengenai keutamaan ilmu bila disandingkan dengan harta, “Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjaga pemiliknya sedang harta dijaga oleh pemiliknya. Ilmu semakin bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta semakin berkurang dengan disedekahkan. Ilmu menjadi penguasa, sedang harta dikuasai. Kebaikan yang didasarkan pada harta seseorang akan hilang seiring habisnya harta tersebut, sementara kecintaaan terhadap orang yang berilmu tidak akan habis walaupun orang yang berilmu tersebut telah tiada namun ilmunya senantiasa selalu diamalkan. Ilmu akan mendatangkan ketaatan bagi pemiliknya dan kenangan indah setelah kematiannya. Orang-orang yang suka menggadang harta, mereka seperti mati meski jasadnya masih hidup, sementara orang-orang yang memiliki banyak ilmu, mereka senantiasa hidup meski nyawa telah berpisah dari raga. Jasad mereka telah tiada, namun jasa mereka kekal dan akan selalu dikenang didalam hati setiap orang” (ash-Shalabi: 2008).

Dari pemaparan diatas, jelas sudah mengapa Rasulullah mengatakan Ali ibn Abi Thalib sebagai gerbang ilmu (bab al ilm). Menjalani kehidupan bersama Rasulullah serta dianugerahi akal yang cerdas dan lisan yang fasih merupakan salah satu alasannya. Namun, walaupun demikian, Ali tetaplah seorang hamba Allah yang tidak pernah sekalipun merasa lebih tinggi kedudukannya diantara umat, Ali tetap mejadi orang yang wara’ dan zuhud. Baginya, ilmu yang dimilikinya serta dunia yang ditinggalinya hanyalah titipan semata. Dan akhirat adalah tempat kembali yang kekal dan abadi.

Sebagai generasi pelurus serta penerus bangsa sudah sepatutnya kita menjadikan sosok Ali ibn Abi Thalib sebagai panutan dalam bidang keilmuan. Ada satu perkataan Ali r.a. yang masyhur mengenai pentingnya ilmu:
Ilmu berbisik kepada amal
Dan amal mesti menjawabnya
Jika tidak, ilmu menjadi sia-sia.
*Najiha Sabrina, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis, Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Daftar Pustaka
Al-Quraibi, Ibrahim. 2009. Tarikh Khulafa’, Terj. Faris Khairul Anam. Jakarta Timur: Qisthi Press.
Ash-Shalabi, Ali Muhammad. 2012. Biografi Ali bin Abi Thalib, Terj. Muslich Taman, Akmal Burhanudin, dan Ahmad Yaman. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Kinas, Raji Hasan. 2012. Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi: Menyimak Kisah Hidup 154 Wisudawan Madrasah Rasulullah SAW. Terj. Nurhasan Humaedi, Banani Bahrul-Hasan, Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Zaman.
Murad, Musthafa. 2013. Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib, Terj. Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Zaman.
Sunarto, Ahmad. 2013. Ensiklopedi Biografi Nabi Muhammad SAW dan Tokoh-Tokoh Besar Islam: Panutan dan Teladan Bagi Umat Sepanjang Masa. Jakarta: Widya Cahaya Jakarta.

Hampir Sangi Albert Einstain, Febri ber-IQ 150

Muhammad Febri Alfi Syahri

Dalam rangka memacu prestasi peserta didik (santri) Dayah Darul Ihsan terus berbenah. Antara lain tes penggolongan lengkap tingkat Intelegent Quotient (IQ), bakat dan minat santri.

Tes ini sangat penting untuk menentukan arah masa depan santri. Hasil tes ini juga bisa menjadi panduan sekaligus meminimalisir alumni Darul Ihsan ketika masuk Perguruan Tinggi tidak salah menentukan jurusan yang sesuai bakat dan kemampuan. Demikian terang Tgk Musannif Sanusi, SE, Ketua Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Dayah Darul Ihsan di Gampong Siem, Kec. Darussalam, Kab. Aceh Besar. Minggu, 27 November 2016. Sore.

http://portalsatu.com/read/kampus/santri-darul-ihsan-miliki-iq-150-21443

Dari 75 (tujuh puluh lima) santri-santriwati yang ikut tes, Nilai tertinggi diraih oleh Muhammad Febry Alfi Syahri. Putra Nagan Raya. Lahir Medan, 2 Februari 1999. Alamat Desa Desa Guna, Kec. Darul Makmur, Kab. Nagan Raya. Disusul oleh Mustasyar dengan nilai 141 Aceh Besar. Muhammad Izzat shaddiq 140 Nagan Raya.

Penggolongan lengkap tingkat Intelegent Quotient (IQ) terlaksana atas kerjasama dengan Laboratarium Bimbingan & Konseling UIN Ar-raniry Banda Aceh dibawah asuhan Qurrati a'yuna, M. Pd Kons. Dibantu oleh penguji Nuzliah, M.Pd, Faisal Anwar, M.Ed.

"Awal tahun 2017 insya Allah akan kembali mengadakan tes serupa dikarenakan santri sudah banyak yang mendaftar untuk segera di tes kembali". Terang Ustadz Faisal Anwar selaku Ketua Tes IQ Darul Ihsan.


admin Web

Dirut Bank Aceh Sepada Santai Ke Darul Ihsan



Direktur Utama (Dirut) Bank Aceh Busra Abdullah, SE bersama sejumlah kepala cabang dan karyawan bersepeda santai mulai star dari Seutui dan berakhir finish di Komplek Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Gampong Siem, Kec. Darussalam, Kab. Aceh Besar. Minggu, 27 November 2016. Pagi.

"Sepada santai ini sangat bermanfaat untuk kesehatan jantung dan paru" demikian terang dokter spesialis Paru dan Jantung, dr Teuku Zulfikar yang juga ikut dalam rombongan.


Rombongan sepeda santai Bank Aceh itu disambut langsung oleh Mudir Makhad Ustadz Muhammad Faisal, S.Ag, M.Ag didampingi oleh pengurus senior beserta ratusan santri.

Acara temu ramah di kediaman rumah Mudir Makhad Darul Ihsan itu disudahi dengan sarapan pagi, ziarah ke makam Abu Hasan Krueng Kalee, penyerahan santunan dari pihak Bank Aceh, penyerahan cendramata dari Dayah Darul Ihsan dan foto bersama.

Admin Web
 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved