"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » » Darulihsan@news (Gampong Pande, Laboratorium Sejarah yang Terlupakan)

Darulihsan@news (Gampong Pande, Laboratorium Sejarah yang Terlupakan)

Written By Darul Ihsan on Rabu, 13 November 2013 | 04.40


by Google


Gampong Pande adalah sebuah gampong bersejarah di Kota Banda Aceh. Gampong ini diapit oleh dua gampong lainya, yaitu Gampong jawa dan Gampong Peulanggahan. Gampong Pande dahulunya adalah salah satu bandar pelabuhan yang megah. Disinilah pertama kalinya Kerajaan Aceh Darussalam dibangun oleh Ali Mughayat Syah. Secara geografis gampong ini juga bersebelahan juga dengan laut, oleh karenanya gampong ini menjadi pusat Kerajaan Aceh dahulunya sebelum berpindah ke Istana Darud Dunia. 

Nama Kampung Pande ditemukan di Hikayat Pocut Muhammad yang disusun pada awal abad ke-18 Masehi. Seperti ditulis Karel F.H van Langen yang berjudul Susunan Pemerintahan Aceh Semasa Kesultanan, terbitan tahun 1986, Kampung Pande sudah dikenal sebagai tempat pengrajin benda logam dan batu-batu mulia. Mungkin karena itu pula dinamakan Kampung Pande.

Gampong Pande juga menjadi daerah yang paling parah diterpa oleh gelombang tsunami 2004 silam. Gampong ini bahkan telah tergerus oleh abrasi laut. Sangat disayangkan, sebuah bukti sejarah kejayaan Aceh harus hilang dan dilupakan oleh anak cucunya. 
Padahal Kampung Pande yang merupakan salah satu kampung tua , yang dapat dijadikan laboratorium bagi sejarah perkembangan kota Banda Aceh. Tak hanya itu saja, kampung tua yang kaya sejarah ini juga dapat dijadikan salah satu tujuan wisata sejarah di Banda Aceh. Kampung ini memegang peranan penting dalam perkembangan kota Banda Aceh baik di masa kini maupun di masa mendatang.

Kampung ini tak hanya menjadi sebuah sejarah kejayaan masa lalu, namun menjadi tolak ukur untuk anak cucu kita menciptakan sejarah dimasa akan datang. Pejuang Aceh dulu sudah sangat berjasa dalam menata kehidupan di bumi Aceh ini, mereka telah rela menumpahkan darahnya demi marwah bangsa. Namun sangat disayangkan jika generasi penerus bangsa ini melupakan jasa-jasa para leluhur.

Setidaknya, kita sebagai generasi penerus dapat menjaga dan mengelola puing-puing sejarah yang tersisa ini. Kini, kampung hini hanya menjadi puing sejarah yang terbaikan. Banyak makam-makam kuno yang telah rusak, bahkan lenyap sekali pun. Tak lama lagi semua situs sejarah disana akan lenyap tak tersisah. Akan kah kita menginginkan hal itu terjadi ?
Bagikan ke:

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved