"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » , » Hakikat Merayakan Idul Fitri

Hakikat Merayakan Idul Fitri

Written By Darul Ihsan on Minggu, 24 November 2013 | 16.09



Oleh: Ust. Abizal Muhammad Yati
Hidayatullah.com Selasa, 13 Agustus 2013 - 06:06 WIB 
Matahari yang terbit hari ini tidaklah seindah matahari yang terbit kemarin, matahari kemarin penuh cahaya keberkahan yang menjanjikan sejuta ampunan dan pahala yang melimpah, hari ini cahaya itu sudah hilang karena tamu yang agung itu telah pergi meninggalkan bumi, kepergian-nya diiringi oleh para malaikat yang membawa keberkahan menuju Arasy’  Allah Subhanahu Wata’ala dengan membawa catatan-catatan penting  yang akan dilaporkan kepada Tuhan yang telah mengirimkan tamu agung itu.

Satu bulan lamanya tamu agung itu berada di bumi, memberikan pelayanan yang begitu istimewa, mendengarkan keluh kesah manusia, lewat media yang ia bawa dikabulkan permintaan apa saja yang diminta hamba kepada Tuhan-Nya, melipat gandakan amal kebaikan dengan berjuta-juta pahala dengan balasan Surga yang indah, menerima taubat hamba-hamba yang yang ingin kembali kepada Tuhan-Nya, mengampuni dosa-dosa mereka meskipun dosa mereka seperti gununung-gunung yang menjulang tinggi.

Hanya dengan puasa yang dikerjakan penuh dengan keimanan dan keikhlasan berguguran dosa-dosa mereka yang lalu, ditambah lagi dengan shalat malam yang mereka kerjakan dengan penuh rasa khusyu’ dan khuzdu’ (tunduk dan patuh) semata-mata karena Allah maka bertambah pula derajat mereka di hadapan Allah, terbebas dari api neraka merupakan keberuntungan yang dijanjikan Tuhan bagi mereka, dan hunian surga hadiah istimewa bagi mereka.

Sungguh amat beruntunglah bagi mereka yang telah memuliakan tamu agung tersebut sebagai momentum perbaikan diri dan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa), sehingga diri menjadi suci dan bersih dari noda-noda dan dosa, sungguh sangat beruntung orang-orang yang telah mensucikan diri (al-A’la: 14).

Membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan masa lalu terhadap diri yang telah melampaui batas, betapa banyak larangan Allah yang dikerjakan dengan sengaja dalam keadaan sadar, tangan yang Allah berikan digunakan untuk maksiat mengambil harta yang bukan miliknya atau menyentuh tubuh yang tidak halal  baginya, mata yang diberikan digunakan untuk melihat apa yang Allah haramkan, hidung mencium yang haram, lidah burucap yang kotor ghibah (menggunjing), dan namimah (menyebar fitnah), telinga mendengar kata-kata kotor dan keji, kaki lebih sering dilangkahkan ke tempat maksiat, hati selalu memikirkan syahwat dan kesenangan dunia. 

Belum lagi dosa-dosa meninggalkan perintah Tuhan, betapa banyak kealpaan dalam memenuhi kewajiban Allah, seruan azan diabaikan, suara al-Quran dianggap mengganggu hati dan pikiran, shalat fardhu lima waktu ditinggakan dengan sengaja, puasa ramadhan bertahun-tahun ditinggalkan dengan penuh keangkuhan, harta yang melimpah ruah tidak pernah dikeluarkan hak fakir miskin dan anak yatim yang terdapat di dalamnya, dan dosa-dosa lain yang begitu banyak.

Semuanya lebur dan berguguran tiada satupun tersisa, diampuni semuanya oleh yang maha Pengampun bagi hamba-hamba yang benar-benar menggunakan kesempatan tersebut untuk bertobat dan kembali ke jalan-Nya.

Rasulullah meriwayatkan dalam Hadis Qudsi, Allah berfirman:
 “Wahai Anak Adam, jika engkau bermunajat dan berharap kepadaku maka aku ampunkan semua dosa engkau dan Aku tidak peduli (sebesar apapun dosa itu), wahai anak Adam jika dosamu menjulang tinggi hingga ke langit kemudian engkau memohon ampun kepadaku maka Aku ampunkan semua dosa engkau dan Aku tidak peduli (sebanyak apapun dosa itu) wahai anak adam jika engkau datang kepadaku dengan dosa sebulat bumi kemudian engkau berjumpa denganku tidak pernah menyekutukan aku dengan sesuatu apapun maka aku akan menjumpai engkau dengan ampunan sebulat bumi.” (HR. Tirmizi).

Namun, tidak semua orang mendapat keburuntungan ini, tidak semua mendapatkan ampunan dari Allah, karena mereka tidak memuliakan tamu yang mulia tersebut, mereka menyianyiakan kesempatan tersebut, padahal mereka telah diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia tersebut. Di siang hari seharusnya mereka menahan haus, lapar dan syahwat, malahan mereka dengan penuh kesombongan melanggar perintah tersebut, di malam hari seharusnya menghidupkan malam dengan mendekatkan diri dengan shalat, zikir dan baca al-Quran, tapi mereka abaikan semua itu. Beginilah yang digambarkan oleh Rasulullah: Betapa banyak orang diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan namun Allah tidak mengampunkan dosanya.

Hari yang fitri ini merupakan kemenangan yang besar bagi orang-orang yang telah benar-benar mendapatkan ampunan dari Allah, kebahagiaan yang tiada tara yang bagi orang yang telah berpuasa, Rasulullah bersabda: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan satu kebahagiaan ketika berbuka dan satu kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (HR. Muslim).

Di pagi hari ini satu kebahagiaan yang dinikmati oleh mereka yang benar-benar berpuasa di bulan suci yaitu mereka telah berbuka dengan penuh kegembiraan bersama sanak saudara mereka, hari-hari sebelumnya selama satu bulan lamanya mereka telah menahan rasa lapar, haus karena Allah, Merekalah orang-orang yang telah memperoleh ampunan Allah. Maka  mereka pulalah yang layak merayakan kemengan di hari yang fitri ini karena diri mereka telah kembali kepada fitrhah, suci seperti baru dilahirkan ke bumi.

Orang Bijak berkata: Bukanlah hari raya bagi orang yang berhias diri dengan pakaian dan kenderaan, hari raya adalah bagi orang yang telah diampunkan dosanya, bukanlah hari raya bagi orang yang makan makanan yang lezat, bersenang-senang dengan syahwat dan kelezatan, hari raya adalah bagi bagi orang yang telah diampunkan dosaya dan telah diganti kesalahannya dengan pahala dan kebaikan (al-Futuhat aulya).*

Penulis adalah pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Aceh (DDI-Aceh)/ wakil pimpinan Pesantren Darul Ihsan Aceh
Rep: 
Anonymous
Editor: Cholis Akbar
Bagikan ke:

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved