"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » » Darul Ihsan, Dayah Dengan Kurikulum Terpadu

Darul Ihsan, Dayah Dengan Kurikulum Terpadu

Written By Darul Ihsan on Rabu, 01 Januari 2014 | 23.58

SEBAGIAN masyarakat menyebut dayah ataupun pesantren terpadu dan modern tidak lagi menerapkan sistem salafi, di mana para santri yang mondok di dayah belajar kitab-kitab kuning. Namun, di Dayah Terpadu Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kalee, di Desa Siem, Darussalam, Aceh Besar masih menerapkan sistem salafi, memadukan kurikulum dari Departemen Agama.

 Pimpinan Dayah Darul Ihsan, Muhammad Faisal Sanusi, Rabu (18/12) mengatakan, perpaduan dua kurikulum tersebut dilakukan karena berawal dari pemikiran menghidupkan kembali dayah tersebut sebagaimana Tgk H Muhammad Hasan Krueng Kalee pertama sekali menggerakkan dayah ini dengan menggunakan sistem salafi. “Hari ini apabila dihilangkan itu maka hilanglah ruh dayah. Saya sendiri berpendapat apabila kita hilangkan sistem dayah salafi maka kurang tepat kita beri nama lembaga ini dayah. Tapi lebih bagus sekolah saja yaitu boarding school,” jelas Muhammad Faisal Sanusi yang juga merupakan cucu dari Abu Krueng Kalee. 

Menurutnya penamaan dayah dikarenakan pesantren masih mempertahankan pelajaran kitab-kitab kuning yang merupakan warisan para ulama terdahulu. Hingga saat ini, kata Muhammad Faisal Sanusi kitab-kitab kuning masih diajarkan kapada para santri putra-putri yang berjumlah sekitar 540 orang. Ada beberapa mata pelajaran dari Depag kontennya diubah, misalnya pelajaran fiqh maka yang diajarkan dengan menggunakan kitab, tidak menggunakan sejumlah buku yang dikeluarkan dari Depag.

 “Itulah bentuk perpaduan dua kurikulumnya dayah salafi dan Depag. Sama sekali tidak dihilangkan dayah salafinya,” ujar alumni Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry tahun 1995. Para santri mulai belajar pukul 7.45 WIB sampai 13.30 WIB, kemudian dilanjutkan dengan belajar malam setelah shalat maghrib hingga pukul 21.00 WIB. Banyaknya jam belajar yang dijalani para santri dikarenakan banyaknya pelajaran yang digabungkan dalam satu jadwal dari dua kurikulum tersebut. Di luar jam pelajaran tersebut, para santri dapat melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti olehraga, takraw, karate, kaligrafi, tahfiz, tilawah, dan rebana bagi santri putri.

Santri putra dan putri dipisahkan, baik saat belajar di ruangan, shalat berjamaah, kegiatan ekstrakurikuler, dan lainnya. Asrama putra dan putri juga dipisahkan oleh jalan desa yang sering dilalui berbagai kendaraan. Sejarah Dayah Dayah Terpadu Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kalee didirikan 1999 melanjutkan dayah yang sebelumnya didirikan sekitar 1915 oleh Tgk H Muhammad Hasan Krueng Kalee. Ulama besar yang dikenal dengan Abu Krueng Kalee ini membuka tempat tersebut dari seseorang yang mewakafkan tanah kepadanya. 

Sejak saat itu mulailah Abu Krueng Kalee membuka dayah untuk mengajarkan orang-orang yang menyantri di tempatnya. Saat itu, dayah belum memiliki nama. Orang-orang menyebutnya dengan Dayah Krueng Kalee. Krueng Kalee merupakan nama sebuah gampong di Kemukimam Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar lebih kurang 13 kilometer ke arah timur dari Kota Banda Aceh. Pada masa itu banyak orang-orang dari berbagai daerah di Aceh maupun luar Aceh yang datang untuk mondok dan mempelajari ilmu agama dengan Abu Krueng Kalee. 

Namun saat itu terjadi pergolakan, para santri pulang ke kampung halamannya masing-masing. Sejak saat itu kegiatan belajar mengajar terhenti, dan Abu Krueng Kalee yang dilahirkan dengan nama kecil Muhammad Hasan, pada 13 Rajab 1303 H/18 April 1886 M di Gampong Langgoeng, Meunasah Keutumbu, Kemukiman Sangeue, Pidie ini membuka dayah lain di Cot Seunong. Masa-masa selanjutnya terjadi pergelokan Darul Islam (DI) dengan pemerintah. Oleh pemerintah Abu Krueng Kalee dipindahkan ke Peunayong menempati sebuah rumah di depan penjara Keudah masa itu. 

Pemindahan itu, karena Abu Krueng Kalee memiliki pengaruh yang besar, dikhawatirkan Abu Krueng Kalee memihak dan bekerja untuk DI. Bahkan, ketika peristiwa DI/TII meletus di Aceh tahun 1953, seorang utusan Daud Beureueh datang menjumpainya untuk mengajak bergabung dalam barisan DI/TII. Namun beliau menolak dengan sebuah ungkapan yang masyhur; “Ta Peu’ek Geulayang Watei na Angen.” (terbangkanlah layang-layang ketika angin kencang). Ungkapan ini bermakna bahwa keputusan Abu Beureueh dan kawan-kawan ketika itu tidak di dukung oleh situasi dan kondisi yang tepat, tidak akan membuahkan hasil dan justru akan menyengsarakan rakyat. 

Abu Krueng Kalee meninggal pada tanggal 19 Januari 1973, tepatnya malam Jumat, pukul 03.00 dini hari. Abu Meninggalkan tiga orang istri; Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem; Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee; dan Tgk. Hj. Nyak Awan di Lamseunong. Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee meninggalkan Tujuh belas orang putra dan putri. Salah satunya, Tgk. H. Syech Marhaban yang pernah menjabat Menteri Muda Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Makam Abu Krueng Kalee berada di Kompleks Asrama Putri Dayah Terpadu Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kalee. (mawaddatul husna) http://aceh.tribunnews.com/2013/12/20/darul-ihsan-dayah-dengan-kurikulum-terpadu
Bagikan ke:

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved