"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » » Persatuan dan Kesatuan Harus Terjaga di Tengah Umat Islam

Persatuan dan Kesatuan Harus Terjaga di Tengah Umat Islam

Written By Darul Ihsan on Selasa, 14 Januari 2014 | 17.10


Banda Aceh, (Analisa). Persatuan dan kesatuan harus benar-benar terjaga di tengah-tengah kehidupan umat Islam di mana pun ia berada, karena hanya dengan modal itu bisa melahirkan umat Islam yang kuat.

Sebaliknya, jika umat Islam saling menyalahkan, saling fitnah, tidak saling percaya, dan memelihara sifat permusuhan antar sesama, justru akan mengakibatkan kelemahan umat Islam itu sendiri, sehingga sangat mudah ditaklukkan oleh musuh-musuh di luar Islam.

Pernyataan ini disampaikan seorang ulama dan ahli fiqh dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Syeikh Abu Muaz Muhammed Abdul Hayy Uwainah saat mengisi materi pada pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke Banda Aceh, Rabu (8/1) malam.

“Hanya dengan menjaga persatuan dan kesatuan, umat ini bisa kuat dan ditakuti oleh para musuh-musuh yang ingin menghancurkan umat Islam,” ujar Syekh Abu Muaz.

Dalam pengajian bertemakan; “Memahami makna persatuan dalam Islam”, Syeikh Abu Muaz mengungkapkan, di antara keistimewaan ajaran Islam adalah seruan kepada penganutnya untuk mempertahankan persatuan di antara umat Islam (Ukhuwah Islamiah) dan cercaan terhadap perpecahan yang terjadi di tengah umat ini. Sesuai firman Allah, yang artinya: “Dan berpegang eratlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah-belah”. (Ali Imran: 103).

Dikatakan, kalimat “jangan kalian berpecah-belah” berarti peringatan Allah kepada umat Islam untuk bersatu dalam persaudaraan dan larangan untuk bergolong-golongan yang menyebabkan lemahnya umat Islam di hadapan umat lain.

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk selalu bersatu dan melarang kita untuk berpecah-belah. Sungguh perpecahan itu adalah suatu kehancuran. Berpecah di sini berarti bergolong-golongan mengikuti hawa nafsu dengan berbagai macam tujuan duniawi yang menyebabkan banyaknya golongan dalam agama ini. Karena itu, satu-satunya jalan menghindari bencana ini adalah bersatunya umat Islam dalam satu ikatan Allah, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, lalu menjadikan keduanya sebagai rujukan (referensi) dalam hidup ini, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat dan berselisih paham di antara kita,” jelasnya.

Sejarah Islam telah mengajarkan bagaimana menjaga persatuan. Mempelajari sejarah bukan semata-mata untuk mengetahui cerita masa silam, namun sejarah telah mengajarkan bagaimana seharusnya umat Islam menyatukan dirinya. Apabila di zaman ini umat Islam belajar dari sejarahnya, maka persatuan itu kembali terjadi.

“Di antaranya, sejarah di masa setelah Rasulullah wafat, menerangkan bagaimana umat Islam saat itu difitnah dan diadu-domba sesamanya oleh penyusup yang mengakibatkan pembunuhan terhadap para sahabat rasul, seperti Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, dan lain-lain” katanya.

Berhati-hati

Dalam penyampaian materi pengajian yang diterjemahkan Ustadz Muakhir Zakaria, MA tersebut, Syeikh Abi Muaz menambahkan, sejarah ini mengajarkan kepada sekalian umat Islam supaya sangat berhati-hati terhadap setiap fitnah yang mengarah kepada perpecahan.

“Yang perlu dilakukan di zaman ini adalah menyatukan sekalian kaum Ahlussunnah Waljama’ah di muka bumi. Kita harus belajar pada Amru bin ‘Ash yang menyatakan bahwa siapa pun yang ditunjuk sebagai khalifah akan ia ikuti. Imam Syafi’i mengatakan, kita harus berpegang pada kebenaran dan Al-quran. Maka, kembalilah kepada Al-quran, itulah yang menyatukan sekalian umat Islam,” kata Syeikh dalam pengajian yang diikuti wartawan yang tergabung dalam KWPSI, santri, mahasiswa, akademisi, dan pengusaha.

Diungkapkan, selama ini kebanyakan orang sudah sangat resah dengan kondisi umat Islam terkini yang lebih mengarah kepada perselisihan, menuduh kafir kepada saudaranya yang muslim, bahkan hingga menyebabkan pertumpahan darah sesamanya.

“Apa yang terjadi hari ini sangat berbeda jauh dengan konflik yang terjadi masa Khulafaurrasyidin antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah. Mereka bukan memperebutkan khalafah tapi semata-mata mencari hukum yang pantas untuk menghukum pembunuh Usman bin Affan,” ungkapnya.

Salah satu bukti Mu’awiyah tidak mencari kekuasaan ketika Raja Rum menawarkan bantuan pasukan untuk membunuh Ali bin Abi Thalib. Mu’awiyah membalas Raja Rum, “Kami berdua (Ali dan Mu’awiyah) adalah bersaudara. Adapun perselisihan kami hanya berkisar teknis menghukum pembunuh Usman. Tidak lebih dari itu. Perlu Engkau ketahui hai Raja Rum, setelah perselisihan ini selesai tunggulah kedatangan kami untuk memerangi Anda”. (mhd)

http://www.analisadaily.com/mobile/pages/news/76356/persatuan-dan-kesatuan-harus-terjaga-di-tengah-umat-islam
Bagikan ke:

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved