"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » » AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT

Written By Darul Ihsan on Jumat, 09 Mei 2014 | 09.59


www.darulfatwa.org.au


AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT (al Firqah an-Najiyah)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: وَإِنَّ هَذِهِ اْلمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ ثِنْتاَنِ وَسَبْعُوْنَ فِي النّاَرِ وَواَحِدَةً فِي اْلجَنَّةِ وَهِيَ اْلجَمَاعَةُ (رَواَهُ أَبُوْ دَاوُدَ)

Maknanya: “…dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)

Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan adalah taufiq (pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal, mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran- ketika membantah raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau menundukkan mereka dengan dalil akal. Fungsi akal dalam agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagai peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeda dengan para filosof yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal lainnya yang hanya berdasarkan penalaran akal semata. Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang ajaran yang dibawa para nabi. Tuduhan kaum Musyabbihah; kaum yang sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap Ahlussunnah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang hanya mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh al-Mu’tazilah (anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan karena lebih mengedepankan akal, adalah tuduhan yang salah alamat. Ini tidak ubahnya seperti seperti kata pepatah arab “Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek adalah senjata para pengecut). Secara singkat namun komprehensif, kita ketengahkan bahasan tentang Ahlissunnah sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistematikanya.

PEMBAHASAN
Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam dari mulai abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sampai sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang faham satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan saling bertentangan. Ini fakta yang tak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan gamblang Rasulullah telah menjelaskan bahwa umatnya akan pecah menjadi 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita tempuh agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Yaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; mayoritas umat Islam. Karena Allah telah menjanjikankepada Rasul-Nya, Muhammad , bahwa umatnya tidak akan tersesat selama mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyempal dan memisahkan diri dari keyakinan mayoritas. Mayoritas umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul al-I’tiqad (dasar-dasar aqidah); yaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Jibril:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره (رواه البخاري ومسلم)

Maknanya: “Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk”. (H.R. al Bukhari dan Muslim) Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai mayoritas umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

" أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ "، "عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ" (رواه الترميذي وقال حسن صحيح وصححه الحاكم)

Maknanya: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian -- mengikuti-- orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah mereka“. Dan termasuk rangkaian hadits ini: “Tetaplah bersama al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”. (H.R. at-Turmudzi, ia berkata hadits ini Hasan Shahih juga hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim).

Al-Jama’ah dalam hadits ini tidak boleh diartikan dengan orang yang selalu menjalankan shalat dengan berjama’ah, jama'ah masjid tertentu atau dengan arti ulama hadits, karena tidak sesuai dengan konteks pembicaraan hadits ini sendiri dan bertentangan dengan hadits-hadits lain. Konteks pembicaraan hadits ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah mayoritas umat Muhammad dari sisi kuantitas.

Penafsiran ini diperkuat juga oleh hadits yang kita tulis di awal pembahasan. Yaitu hadits riwayat Abu Dawud yang merupakan hadits Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat. Hadits ini memberi kesaksian akan kebenaran mayoritas umat Muhammad bukan kebenaran firqah-firqah yang menyempal. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyempal ini, dibanding pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah sangatlah sedikit. Selanjutnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah dikenal istilah “ulama salaf”. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi:

خَيْرُ القرون قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (رواه الترمذي)

Maknanya: “Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)

Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– datang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya. Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al- Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu. Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbedaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para sahabat nabi, perihal apakah Rasulullah Saw melihat Allah pada saat Mi’raj?. Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah Saw tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn 'Abbas mengatakan bahwa Rasulullah r melihat Allah dengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad Saw sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafizh Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:

إِذاَ أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَماَعَةِ فَالْمُراَدُ بِهِمِ اْلأَشاَعِرَةُ وَاْلماَتُرِيْدِيَّةُ

“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6)

Jadi aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini
oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

Aqidah ini diajarkan di pesantren-pesantren Ahlussunnah di negara kita, Indonesia. Dan al-Hamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syiria, Yordania, Lebanon dan Palestina), Maroko, Yaman, Irak, Turki, Daghistan, Checnya, Afghanistan dan masih banyak lagi di negara-negara lainnya.

Maka wajib bagi kita untuk senantiasa penuh perhatian dan keseriusan dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang merupakan aqidah golongan mayoritas. Karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh al-Akbar. Karenanya, mempelajari ilmu ini harus lebih didahulukan dari mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Setelah cukup mempelajari ilmu ini baru disusul dengan ilmu-ilmu yang lain. Inilah metode yang diikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini. Tradisi semacam ini sudah ada dari masa Rasulullah, sebagaimana dikatakan sahabat Ibn 'Umar dan sahabat Jundub:

كُناَّ نَحْنُ فِتْياَنٌ جَزَاوِرَةٌ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمْناَ اْلإِيْماَنَ وَلَمْ نَتَعَلَّمِ اْلقُرْآن َثُمَّ تَعَلَّمْناَ اْلقُرْآنَ فَازْدَادَ بِهِ إِيْماَناً (رواه ابن ماجه وصححه الحافظ البوصيري)

Maknanya: “Kami -selagi remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum mempelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah keimanan kami". (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al- Bushiri).

Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal tersebut dikarenakan banyaknya golongan yang mengatas namakan Islam justru menentang aqidah Islam yang benar dan banyaknya kalam (adu argumentasi) dari setiap golongan untuk membela aqidah mereka yang sesat. Tidak semua ilmu kalam itu tercela, sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi ilmu kalam terbagi menjadi dua bagian: ilmu kalam yang terpuji dan ilmu kalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua inilah yang menyalahi aqidah Islam karena sengaja dikarang dan ditekuni oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya. Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang sesat. Dikatakan terpuji karena pada hakekatnya ilmu kalam Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah dalam formatnya yang sistematis dan argumentatif; dilengkapi dengan dalil-dalil naqli dan aqli.

Dasar-dasar ilmu kalam ini telah ada di kalangan para sahabat. Di antaranya, sahabat 'Ali ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kuat dapat mengalahkan golongan Khawarij, Mu’tazilah juga dapat membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda). Demikian pula sahabat 'Abdullah ibn Abbas, al-Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib dan 'Abdullah ibn Umar juga membantah kaum Mu’tazilah. Sementara dari kalangan tabi’in; imam al-Hasan al- Bashri, imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-Hanafiyyah; cucu sayyidina Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu’tazilah. Kemudian juga para imam dari empat madzhab; imam Syafi’i, imam Malik, imam Abu Hanifah, dan imam Ahmad juga menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H) dalam kitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam kitabTabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al-Masami’ dan al 'Allamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat al-Maram dan lain-lain. Allah berfirman:

(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ)  (محمد:19)

Maknanya: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu". (Q.S. Muhammad :19) Ayat ini dengan sangat jelas mengisyaratkan keutamaan ilmu ushul atau tauhid. Yaitu dengan menyebut kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada perintah untuk beristighfar yang merupakan furu’ (cabang) agama. Ketika Rasulullah r ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliau menjawab:

إِيْماَنٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ (رَوَاهُ اْلبُخَارِي)

Maknanya: “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. (H.R. Bukhari)
Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah r mengkhususkan dirinya sebagai orang yang paling mengerti dan faham ilmu tauhid, beliau bersabda:

أَناَ أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ (رَوَاهُ اْلبُخَارِي)

Maknanya: “Akulah yang paling mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-Nya”. (H.R. Bukhari)
Karena itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ini. Seperti Risalah al-'Aqidah ath- Thahawiyyah karya al-Imam as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al ‘Aqidah an-Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H), al-‘Aqidah al- Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn ‘Asakir (W 630 H), al 'Aqidah ash- Shalahiyyah yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599 H); beliau menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H). Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal dengan nama al 'Aqidah ash-Shalahiyyah.
Sulthan Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al 'Aqidah as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al 'Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan al 'Aqidah as-Sunniyyah dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung.

Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah. Amin. []

KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG AQIDAH ASY'ARIYYAH; AQIDAH
AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH
As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: "Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al- Asy'ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan nama kepadanya karena beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf,
hujjah (argumentasi) yang beliau pakai sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, karenanya para pengikutnya kemudian disebut Asy'ariyyah. Abu al-Hasan al-Asy'ari bukanlah ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama'ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama'ah. Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih rinci dan sistematis..demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari". Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa "kelompok yang benar adalah kelompok Asy'ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Asy'ari. Aqidahnya juga aqidah para sahabat dan tabi'in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri. Dan alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita. Kemudian beliau melantunkan satu bait sya'ir:

وَكُنْ أَشْعَرِيّاً فِي اْعتِقاَدِكَ إِنَّهُ هُوَ اْلمَنْهَلُ الصَّافِي عَنِ الزَّيْغِ وَاْلكُفْرِ

"Jadilah pengikut al Asy'ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yang bersih dari kesesatan dan kekufuran".

Ibnu 'Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar 'ala ad-Durr al Mukhtar : "Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah al Asya'irah dan al Maturidiyyah".  Dalam kitab 'Uqud al Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan : "Aqidahku adalah aqidah Asy'ariyyah Hasyimiyyah Syar'iyyah sebagaimana aqidah para ulama madzhab syafi'i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah". Bahkan jauh sebelum mereka ini Al Imam al 'Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahwa aqidah al Asy'ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi'i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al Hanabilah). Apa yang dikemukakan oleh al 'Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu 'Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.

GARIS BESAR AQIDAH ASY'ARIYYAH
Secara garis besar aqidah asy'ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnah wal jama'ah adalah meyakini bahwa Allah ta'ala maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda yang bisa digambarkan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai'). Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagi ada-Nya, Allah maha kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Ia tidak diliputi arah. Ia ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Iapun ada setelah menciptakan tempat tanpa tempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya kapan, dimana dan bagaimana ada-Nya. Ia ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil. Ia tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Ia tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya.
Ia tidak terjangkau oleh fikiran dan Ia tidak terbayang dalam ingatan, karena apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu. Ia maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa, maha mendengar dan maha melihat. Ia berbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga azali, karena Allah berbeda dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh ia telah kafir. Allah yang telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Ia juga yang mengatur rizki dan ajal mereka. Tidak ada yang bisa menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang bisa menghalangi pemberian-Nya. Ia berbuat dalam kerajaan- Nya ini apa yang Ia kehendaki. Ia tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan-Nya. Apa yang Ia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi. Ia disifati dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Ia maha suci dari segala bentuk kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Ia diutus Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun manusia. Ia jujur dalam setiap apa yang disampaikannya. []

TIDAK SEMUA YANG BARU ITU SESAT
Pemberian titik dan syakal pada mushaf itu tidak ada pada masa Rasul dan Rasul tidak pernah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk melakukan itu, tapi sampai saat ini tidak ada yang berani mengatakan itu sesat dan yang sesat masuk neraka. Demikian juga adzan kedua pada hari jum'at yang dirintis pertama kali oleh sahabat Utsman ibn Affan karena melihat umat Islam sudah semakin banyak. Pada masa Rasul, Abu Bakar dan Umar adzan pada hari jum'at hanya dilakukan sekali ketika khatib naik mimbar, kemudian pada masa Utsman adzan ditambah sebelum khatib naik mimbar. Adzan yang pertama ditujukan untuk memperingatkan umat bahwa waktu dzuhur sudah masuk dan bersegera untuk meninggalkan aktifitas
duniawinya dan datang ke masjid. Apakah kemudian Utsman disebut ahli bid'ah?!

Bukankah Rasulullah telah memberikan keleluasan (rukhshah) kepada umatnya untuk berinovasi dalam hal kebaikan?! dalam haditsnya Rasul bersabda: "Barang siapa merintis perkara baru yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahala dari upayanya serta pahala orang yang menjalankannya" . Seiring dengan perkembangan zaman tentu kebutuhan umat manusia semakin banyak lebih banyak dari masa Rasul dan sahabat, tidak ada salahnya kalau kita memanfaatkan fasilitas-fasilitas teknologi yang telah tercipta itu untuk
mempermudah kepentingan kita beribadah kepada Allah. Karena tidak semua yang baru itu salah dan menyesatkan. Selamat membaca. []

BID’AH
Bid’ah dalam bahasa berarti sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya. Dalam pengertian syara’ adalah sesuatu yang baru yang tidak terdapat secara tekstual baik dalam al Qur’an maupun hadits. Bid’ah terbagi kepada dua bagian, sebagaimana dipahami dari hadits ‘Aisyah -semoga Allah meridlainya-, ia berkata: Rasulullah bersabda yang maknanya: “Barang siapa berbuat sesuatu yang baru dalam syariat ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”. Bagian pertama: Bid’ah Hasanah, juga dinamakan Sunnah Hasanah yaitu sesuatu yang baru yang sejalan dengan al Qur’an dan Sunnah. Bagian kedua: Bid’ah Sayyi’ah, juga dinamakan Sunnah Sayyi’ah yaitu sesuatu yang baru yang menyalahi al Qur’an dan sunnah. Pembagian bid’ah ini, juga dapat dipahami dari hadits Jarir ibn Abdillah al-Bajali -- semoga Allah meridlainya--, berkata: Bersabda Rasulullah yang maknanya: “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatan tersebut juga pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka, dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah buruk maka baginya dosa dari perbuatan tersebut juga dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (H.R. Muslim).

Contoh bagian pertama: Peringatan maulid nabi di bulan rabi’ul awal. Orang yang pertama kali mengadakan maulid nabi ini adalah raja al-Mudzaffar penguasa Irbilia (Iraq) pada abad 7 hijriyah. Pembuatan titik-titik dalam (huruf-huruf) al Qur’an oleh Yahya bin Ya’mur, salah seorang tabi’in yang agung. Beliau adalah seorang yang alim dan bertaqwa, perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari ahli hadits dan ulama lainnya, mereka menganggap baik hal ini sekalipun Mushhaf tersebut tidak memakai titik saat Rasulullah mendiktekannya kepada para penulis wahyunya. Begitu pula Utsman ibn ‘Affan ketika menyalin mushhaf yang lima atau enam tidak dengan titik-titik (pada huruf–hurufnya), dan dari saat itulah semua orang Islam hinggga kini selalu memakai titik dalam penulisan huruf-huruf al Qur’an. Apakah hal ini harus dikatakan bid’ah sesat sebab Rasul tidak pernah melakukannya?. Jika masalahnya demikian maka hendaklah mereka meninggalkan mushhaf-mushhaf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya hingga seperti pada masa Utsman. Abu Bakr ibn Abi Dawud, penulis kitab Sunan, dalam karyanya kitab al-mashahif berkata: orang yang pertama kali membuat titik dalam mushhaf adalah Yahya bin Ya’mur, salah seorang ulama dari kalangan tabi’in yang mengambil riwayat dari sahabat Abdullah ibn Umar dan lainya. Contoh bagian kedua: Hal-hal yang baharu dalam masalah aqidah, seperti bid’ahnya golongan Mu’tazilah, Khawarij dan mereka yang menyalahi apa yang telah menjadi keyakinan para sahabat nabi. Contoh lainnya ceperti penulisan shad ( ص) setelah nama nabi sebagai pengganti Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Padahal para ahli hadits telah menetapkan dalam kitab-kitab musthalah al-hadits bahwa menuliskan shad ( ص) saja setelah penulisan nama nabi adalah makruh, namun begitu mereka tidak sampai mengharamkannya. Dengan demikian dari manakah mereka yang berlebih- lebihan dan membuat kegaduhan mengatakan bahwa perayaan maulid nabi adalah bid’ah yang diharamkan dan bahwa bershalawat atas nabi setelah adzan adalah bid’ah yang diharamkan, dengan alasan bahwa Rasulullah dan atau para sahabatnya tidak pernah melakukannya?!.

Hal yang serupa juga merubah nama Allah menjadi “Aah” atau yang sejenisnya yang banyak dilakukan oleh mereka yang mengaku-aku pengikut tharekat. Maka dari itu Imam Syafi’i semoga --Allah meridlainya-- berkata: “Hal-hal yang baru dalam masalah agama ada dua bagian. Pertama, perkara baru yang menyalahi al Qur’an, sunnah, ijma’ atau atsar, inilah bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang baik yang tidak menyalahi al Qu’an, sunnah, maupun ijma’, inilah perkara yang baru yang tidak tercela”. Diriwayatkan al Baihaqi dengan sanadnya dalam kitabnya Manaqib as Syafi’i. Pembagian Bid'ah yang dibagi oleh Imam Syafi'i di atas adalah sebuah kaidah yang beliau fahami dari nash-nash hadits tentang bid'ah-tentunya beliau lebih faham dari kita tentang maksud hadits-hadits itu-, sehingga kita tidak terburu-buru mengklaim bahwa semua bid'ah adalah sesat tanpa meneliti telebih dahulu, apakah ia bertentangan dengan Al-qur'an atau tidak?!!

BERTAWASSUL DENGAN PARA NABI DAN PARA WALI BUKANLAH SYIRIK
Ketahuilah bahwa tidak ada dalil yang hakiki yang menunjukkan tidak diperbolehkannya tawassul dengan para nabi dan para wali Allah baik disaat tidak hadirnya mereka maupun setelah mereka meninggal dengan alasan bahwa hal itu adalah ibadah kepada selain Allah. Padahal sekedar memanggil orang yang hidup atau yang sudah meninggal, mengagungkan, meminta pertolongan kepada selain Allah (maksudnya malaikat atau manusia, bukan berhala atau pohon atau yang sejenisnya), menuju kuburan seorang wali untuk mencari berkah, meminta sesuatu yang tidak biasanya terjadi di antara manusia atau mengucapkan kalimat minta tolong kepada selain Allah bukanlah perbuatan syirik. Karena definisi ibadah menurut ahli bahasa tidak berlaku bagi masalah-masalah di atas, sebab ibadah secara definitif ialah ketaatan yang disertai dengan ketundukan secara total. Al-Azhari, salah seorang pakar bahasa terkemuka mengutip perkataan al Farra’ yang merupakan ahli bahasa paling mashur mengatakan: “Ibadah dalam bahasa Arab ialah ketaatan yang disertai dengan ketundukan. (lihat Lisan al ‘Arab, para huruf ‘Ain, ba’, dal). Sebagian ahli bahasa lainnya mengatakan: “Ibadah ialah puncak tertinggi kekhusu’an dan ketundukan”. Sebagian lainnya mengatakan: “ibadah adalah puncak perendahan diri”. Pendapat-pendapat inilah yang benar baik secara bahasa maupundalam kenyataanya. Merendahkan diri saja --tidak sampai puncaknya-- bukan merupakan ibadah kepada selain Allah, karena bila demikian maka mereka yang merendahkan diri di hadapan para raja dan pembesar telah menjadi kafir. Padahal ada riwayat yang kuat dalam sebuah hadits bahwa Mu’adz ibn Jabal saat datang dari Syam sujud di hadapan Rasulullah. Rasulullah bersabda: “Apa yang engkau lakukan ini!”. Mu’adz menjawab: “Wahai Rasulullah saya melihat penduduk Syam sujud kepada para batrik (orang yang terpandang) dan uskup (pemuka agama) mereka padahal engkau lebih utama dari mereka”. Rasulullah bersabda: “Jangan kamu lakukan ini, bila aku hendak memerintah seorang manusia sujud kepada manusia lainnya, maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya”. (H.R. Ibn Hibban, Ibn Majah dan lainnya)

Mereka yang mengkafirkan seseorang karena mengunjungi makam nabi atau lainnya dari makam para wali Allah untuk mencari berkah tidak mengetahui makna ibadah. Mereka menyalahi apa yang telah disepakati kaum muslimin masa lampau maupun yang sekarang di mana mereka hingga kini tetap melakukan ziarah ke makam Rasulullah. Makna ziarah ke makam Rasulullah untuk mencari berkah bukan berarti Rasulullah menciptakan keberkahan bagi mereka, tapi maknanya ialah berharap kepada Allah untuk memberikan keberkahan kepada mereka dengan lantaran berziarah ke makam Rasulullah.

Dalil atas hal ini apa yang diriwayatkan al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari Malik ad Dar yang merupakan juru kunci ‘Umar berkata: “Orang-orang di masa ‘Umar terkena musibah kekeringan, kemudian seseorang datang ke makam Rasulullah dan berkata: “wahai Rasulullah mintalah hujan bagi ummatmu karena mereka akan binasa!”. Orang tersebut di datangi Rasulullah dalam mimpi dan beliau berkata: “sampaikan salamku kepada ‘Umar dan beritakan bahwa mereka akan diberi hujan, juga katakan kepadanya: hendaklah engkau cerdas”. Ia kemudian mendatangi ‘Umar dan menceritakan apa yang dialaminya. ‘Umar menangis dan berkata: “Ya Allah aku tidak lalai kecuali dari apa yang aku tidak kuasa --melakukannya--”. Disebutkan
tentang orang tersebut bahwa ia adalah sahabat Bilal ibn al Harits al Muzani. Sahabat ini telah mendatangi makam Rasulullah untuk mencari berkah dan ‘Umar tidak mengingkarinya. Dengan demikian apa yang disebutkan Ibn Taimiyah bahwa ziarah semacam ini adalah syirik hanyalah kebatilan belaka. Al Hafizh Waliyyuddin al Iraqi meriwayatkan hadits Abi Hurairah bahwa nabi Musa berkata: “Ya Allah dekatkanlah (makam) aku dari tanah suci (Bait al Maqdis) dengan satu lemparan batu”, dan Rasulullah bersabda: “Demi Allah jika aku didekatnya maka akan aku perlihatkan kepada kalian makamnya ke arah jalan dekat al Katsib al Ahmar”. Hal ini menujukkan keutamaan mengetahui makam orang-orang saleh untuk menziarahinya dan melaksanakan hakhaknya”. Al Hafizh ad Dliya’ berkata: meriwayatkan kepadaku Salim at Tall berkata: “aku tidak mengetahui tempat yang lebih cepat terkabul untuk berdo’a selain di makam tersebut, dan bahwa ia dalam mimpi melihat kubah di dekat makamnya, di dalamnya ada seseorang yang berkulit sawo matang. Ia mengucapkan salam kepadanya sambil berkata: “engkaukah Musa Kalimullah?, atau: engkaukah Musa Nabi Allah?. Ia menjawab: “benar”. Aku berkata: “katakanlah sesuatu padaku!”. Kemudian ia memberi isyarat dengan empat jarinya dan menggambarkan tingginya, aku terbagun dan tidak mengetahui apa yang ia ucapkan. Ketika Syaikh Dzayyal aku kabari hal ini, ia berkata: “Engkau akan di karuniai empat orang anak laki-laki”. Aku katakan: “aku telah mengawini seorang perempuan yang belum aku dekati”. Ia berkata: “bukan perempuan itu!”. Kemudian aku mengawini perempuan lain hingga aku dikaruniai empat orang anak”. Dari Ibn ‘Abbas bahwa Rasulullah bersabda yang maknanya: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat penjaga (al Hafazhah) di bumi, mereka mencatat daun-daun yang berjatuhan dari pepohonan, maka bila seorang dari kalian tersesat di padang yang luas hendaklah ia memanggil: “Tolonglah wahai para hamba Allah !”. H.R. At Thabarani, al Hafidz al Haitsami berkata: “para perawinya tepercaya”. Rasulullah bersabda yang maknanya: “hidupku adalah kebaikan bagi kalian dan matiku adalah kebaikan bagi kalian, kalian membuat satu perkara (dosa) dan dijadikan hal tersebut bagi kalian, matiku kebaikan bagi kalian, diperlihatkan kepadaku seluruh perbuatan kalian, bila aku melihat dari kebaikan aku memuji Allah (bersyukur) dan bila aku melihat keburukan aku mintakan ampunan bagi kalian”. H.R. al Bazzar, hadits dengan para perawi shahih. At Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir dan al Mu’jam as Shagir meriwayatkan dari ‘Utsman ibn Hunaif bahwa seorang laki-laki mengadu kepada ‘Utsman ibn ‘Affan, tapi ‘Utsman tidak memperhatikan dan menanyakan kebutuhannya. Orang tersebut kemudian bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif dan mengadu kepadanya. ‘Utsman Ibn Hunaif berkata: “pergilah ke tempat wudlu dan berwudlu'lah kemudian shalatlah dua raka’at dan katakanlah dalam doa: “Ya Allah aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu dengan nabi kami Muhammad, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad aku menghadap denganmu kepada Tuhanku dalam kebutuhanku agar terkabulkan”, kemudian cepatlah kemari supaya kita berjalan bersama (menghadap Khalifah Ustman). Orang tersebut pergi dan melakukan apa yang diperintahkan oleh ‘Utsman ibn Hunaif, kemudian mendatangi pintu ‘Utsman ibn ‘Affan. Tiba-tiba penjaga pintu menarik tangannya dan membawanya kepada ‘Utsman ibn ‘Affan, lalu ‘Utsman mendudukannya di atas karpetnya, ‘Utsman berkata: “apakah yang engkau perlukan?, lelaki itupun menyebutkan kebutuhannya. Kemudian ‘Utsman memenuhi segala apa yang ia inginkan dan berkata: “apa yang engkau sebutkan dari hajatmu aku penuhi saat ini juga”. Lelaki itu kemudian keluar rumah dan bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif seraya berkata: “semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, ia (‘Utsman ibn ‘Affan) mungkin tidak akan memperhatikan kebutuhanku dan melihatku hingga engkau menceritakanku padanya. ‘Utsman ibn Hunaif berkata: “Demi Allah aku tidak memberitahukan tentangmu kepadanya akan tetapi aku menyaksikan Rasulullah telah didatangi seorang yang buta dan mengadu kepadanya akan hilangnya penglihatan dia. Rasulullah bersabda: “jika engkau berkehendak maka bersabarlah atau jika engkau berkehendak aku doakan engkau”. Ia berkata: “Ya Rasulallah hilangnya penglihatanku sangat menyusahkanku dan aku tidak memiliki penuntun”. Rasulullah berkata: “datangilah tempat wudlu dan berwudlulah kemudian shalatlah dua raka’at kemudian bacalah kalimat-kalimat tersebut. Lelaki tersebut lalu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah dan demi Allah kita belum berpencar dan majelis kita belum lama hingga orang tersebut sudah kembali masuk dan sudah dapat kembali melihat seakan ia tidak pernah terkena musibah apapun. At Thabarani dalam Mu’jamnya berkata: “hadits ini shahih”. Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa seorang buta bertawassul kepada nabi tidak di hadapan beliau (di tempat lain), dengan dalil perkataan ‘Utsman ibn Hunaif sendiri: “... hingga orang tersebut sudah kembali masuk”. Maka hadits ini menyatakan tentang kebolehan bertawassul dengan nabi baik di masa hidupnya maupun setelah wafatnya. Dan dengan ini jelas apa yang dinyatakan Ibn Taimiyah bahwa tawassul hanya boleh kepada yang hidup dan hadir adalah salah. Setiap syarat yang bukan dari kitab Allah adalah batal sekalipun seratus syarat.
Adapun Tawassulnya ‘Umar dengan al ‘Abbas setelah wafatnya Rasulullah bukan karena Rasulullah telah meninggal akan tetapi justru untuk menjaga hak kekerabatannya dari Rasulullah dengan dalil perkataan al ‘Abbas sendiri ketika diminta oleh ‘Umar: “Ya Allah sesungguhnya kaum ini menghadap denganku kepadaMu karena kekerabatanku dari nabiMu”. Maka jelaslah tidak benar apa yang dinyatakan oleh Ibn Taimiyah dan para pengikutnya yang mengingkari tawassul. Atsar ini diriwayatkan oleh az Zubair ibn Bakkar.
Dan mendekati hal ini pula apa yang diriwayatkan al Hakim dalam al Mustadrak bahwasannya ‘Umar berkhutbah di hadapan manusia seraya berkata: “Wahai manusia sesungguhnya Rasulullah memperlakukan al ‘Abbas layaknya perlakuan seorang anak bagi orang tuanya, maka ikutilah Rasulullah pada pamannya; al ‘Abbas dan jadikanlah ia wasilah kepada Allah”. Riwayat ini menerangkan lebih jelas alasan tawassulnya ‘Umar dengan al ‘Abbas. Maka setelah ini tidak ada lagi tempat bagi pernyataan mereka yang mengingkari
tawassul bahwa hadits di atas dalam sanadnya terdapat Abu Ja’far, di mana ia seorang yang tidak dikenal (majhul). Yang benar tidak seperti apa yang mereka nyatakan, Abu Ja’far ini adalah Abu Ja’far al Hathmi seorang yang terpercaya. Begitu pula pernyataan sebagian mereka, yaitu Nashiruddin al Albani yang mengatakan bahwa maksud pernyataan at Thabarani bahwa hadits ini shahih adalah dilihat dari kadar awalnya, yaitu perbuatan seorang laki-laki yang buta di masa hidupnya Rasulullah saja. Hadits ini menurut pendapat Nashiruddin al Albani tidak bertujuan apa yang dilakukan di masa ‘Utsman ibn ‘Affan, masa setelah wafatnya Rasulullah. Padahal ulama Mushthalah berkata: “Hadits adalah baik yang marfu’ kepada nabi maupun yang mauquf kepada sahabat, artinya bahwa perkataan nabi dinamakan sebuah hadits, begitu pula perkataan sahabat dinamakan hadits. Hadits tidak terbatas perkataan yang dinisbatkan kepada Rasulullah saja. Nashiruddin dengan perkataan sesatnya ini tidak sejalan dengan apa yang telah ditetapkan dalam ‘Ilmu Mushthalah al Hadits. Silahkan lihat dalam kitab Tadrib ar Rawi, al Ifshah dan lainnya dari kitab-kitab Musthalah. Adapun hadits Ibn ‘Abbas bahwa nabi bersabda kepadanya: “Jika engkau memohon maka memohonlah kepada Allah dan jika engkau meminta tolong maka mintalah tolong kepada Allah”, tidak terdapat dalam hadits ini larangan tawassul dengan para nabi ataupun para wali Allah. Makna hadits tersebut ialah bahwa yang paling utama untuk dimohon dan untuk dimintai pertolongan adalah Allah, bukan maknanya janganlah memohon dan meminta pertolongan kepada selain Allah. Senada dengan hadits ini sabda Rasulullah: “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa”. Hadits ini bukan maknanya tidak boleh berteman dengan seorang yang kafir atau memberikan makan kepada yang tidak bertakwa tapi maknanya bahwa yang paling utama untuk ditemani adalah seorang yang mukmin dan yang paling utama untuk diberi makan adalah orang yang bertakwa. Begitu pula hadits Ibn ‘Abbas di atas maknanya tentang keutamaan bukan tentang keharaman. Tidak ada perbedaan antara tawassul dan istigatsah. Tawassul juga dinamakan istigatsah sebagaimana dalam riwayat al Bukhari bahwa nabi bersabda: “sesungguhnya matahari di hari qiyamat sangat dekat hingga air keringat seseorang sampai setengah telinganya, ketika manusia dalam keadaan demikian mereka beristighatsah dengan Adam kemudian Musa kemudian Muhammad”. Dalam hadits ini Rasulullah menamakan permintaan syafa’at dari nabi Adam bagi mereka sebagai istigatsah.
Kemudian Rasulullah menamakan hujan juga dengan mughits. Abu Dawud dan lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah bersabda yang maknanya: “Ya Allah siramilah kami dengan hujan yang memberikan pertolongan, menyegarkan, menyuburkan, memberikan manfa’at dan tidak membahayakan dengan cepat tanpa di akhir-akhir...”, dalam hadits ini Rasulullah menamakan hujan dengan mughits (yang memberikan pertolongan) karena ia menyelamatkan dari kekeringan dengan izin Allah. Begitu juga para nabi dan para wali Allah dapat menyelamatkan dari kesulitan dengan izin Allah ta’ala.[]

MENCARI BERKAH DENGAN PENINGGALAN-PENINGGALAN NABI
Ketahuilah bahwa para sahabat --semoga Allah meridlai mereka-- mencari berkah dengan peninggalan-peninggalan nabi baik di masa hidupnya maupun setelah matinya. Dan semua orang Islam hingga kini masih melakukan hal tersebut. Kebolehan perkara ini diketahui dari perbuatan nabi sendiri, yaitu ketika beliau mencukur rambutnya pada haji Wada’ (haji terakhir yang beliau lakukan) dan membagi-bagikan rambut dan potongan kukunya. Pembagian rambut ini diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim dari hadits Anas.
Dalam lafazh riwayat Muslim, Anas berkata: “Saat selesai melempar Jumrah dan memotong kurbannya, Rasulullah mencukur rambutnya. Beliau mengulurkan bagian kanan rambutnya kepada pencukur untuk memotongnya, kemudian memanggil Abu Thalhah al Anshari dan memberikan kepadanya potongan rambut tersebut. Kemudian Rasulullah mengulurkan bagian kiri rambutnya kepada pencukur, beliau berkata: “Potonglah!”. Lalu memberikannya kembali kepada Abu Thalhah seraya berkata: “Bagikanlah di antara manusia”. Dalam riwayat lain: “maka mulai --dipotong-- dari bagian kanan dan membagikan sehelai dua helai rambut di antara manusia. Kemudian pada bagian kiri, juga dibagibagikan. Rasulullah berkata kepada Abu Thalhah: “Abu Thalhah kemarilah!”, kemudian Rasulullah memberikan Potongan rambutnya kepadanya.
Dalam riwayat lainnya: “Rasulullah berkata kepada pencukur: “di sini!”, sambil memberi isyarat ke bagian kanannya, kemudian beliau membagikan kepada orang-orang yang berada di dekatnya. Lalu memberi isyarat kembali kepada pencukur ke bagian kirinya, setelah dicukur potongannya diberikan kepada Ummu Sulaim. Pada hadits ini penjelasan bahwa sebagian rambut, Rasulullah sendiri yang membagikan di antara orang-orang yang dekat dengannya dan sebagian lainnya diberikan kepada Abu Thalhah untuk dibagikan
kepada semua orang dan sebagian lainnya beliau berikan kepada Abu Thalhah. Dalam hadits ini penjelasan tentang mencari berkah dengan peninggalan-peninggalan nabi. Nabi membagi-bagikan rambutnya agar mereka mengambil berkah dengannya dan mencari syafaat serta taqarrub kepada Allah dengan sesuatu dari diri beliau. Beliau membagi-bagikannya agar menjadi berkah yang langgeng dan sebagai kenang-kenangan bagi mereka. Dari sinilah kemudian orang-orang yang dimuliakan Allah dalam kehidupan mereka mengikuti apa yang dilakukan para sahabat dalam mencari berkah dengan peninggalan-peninggalan Rasulullah. Dimana hal ini kemudian menjadi tradisi yang diwarisi kaum khalaf dari kaum salaf.
Adapun peristiwa pembagian potongan kuku, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya bahwa nabi memotong kuku-kukunya dan membagikannya di antara manusia. Adapun tentang jubahnya nabi, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya dari budak yang dimerdekakan Asma’ binti Abi Bakr, berkata: “ia (Asma Binti Abi Bakr) mengeluarkan jubah --dengan motif-- thayalisi dan kasrawani (semacam jubah kaisar) berkerah sutera yang kedua lubangnya tertutup. Ia (Asma’) berkata: ini adalah jubah Rasulullah, semula berada di ‘Aisyah, ketika ia wafat aku mengambilnya. Dahulu ini dipakai Rasulullah, kita mencucinya yang air cuciannya kita jadikan obat bagi orang-orang yang sakit”. Dalam riwayat lain: “kita mencucinya bagi orang yang sakit di antara kita”. Dan dari Hanzhalah bin Hadzyam berkata: “aku mengikuti rombongan bersama kakekku; Hadzyam menuju Rasulullah, ia (Hadzyam) berkata: “Ya Rasulallah sesungguhnya aku memiliki beberapa anak laki-laki yang sudah besar dan ini yang paling kecil di antara mereka. Kemudian mendekatkanku kepada Rasulullah, lalu ia mengusap kepalaku seraya berkata: “Allah memberkatimu”. Ad Dzayyal berkata: “Aku melihat hanzhalah didatangi orang yang bengkak wajahnya atau orang yang membawa kambing yang bengkak susunya, ia (Hanzhalah) berkata: “dengan nama Allah atas tempat usapan telapak tangan Rasulullah”, kemudian ia mengusapnya hingga hilanglah bengkaknya. Demikian diriwayatkan at Thabarani dalam al Mu’jam al Ausath dan al Mu’jam al Kabir juga diriwayatkan Ahmad dalam hadits yang panjang yang semua para perawinya terpercaya. Dan dari Tsabit berkata: “apabila aku mendatangi Anas (ibn Malik), ia (Anas) --selalu-- diberi tahu tentang tempatku, maka aku masuk kepadanya dan meraih kedua tangannya untuk aku cium, aku berkata: “Demi Ayahku kedua tangan inilah yang telah meraih Rasulullah”, kemudian juga aku cium kedua matanya, aku berkata: “Demi ayahku kedua mata inilah yang telah melihat Rasulullah”. diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan para perawinya shahih selain ‘Abdullah ibn Abu Bakr al Muqdami yang terpercaya (tsiqah). Dan dari Dawud ibn Abi Shalih berkata: “suatu hari Marwan datang dan mendapati seseorang yang meletakkan wajahnya di atas makam --Rasulullah--. Marwan berkata:
“sadarkah apa yang engkau lakukan?”. Ketika mendekat ternyata ia adalah sahabat Abu Ayyub al Anshari. Abu Ayyub berkata: “ya, aku mendatangi Rasulullah, bukan mendatangi batu, aku mendengar Rasulullah bersabda: “janganlah kalian menangisi agama jika dipimpin oleh ahlinya, tapi tangisilah ia bila dipimpin oleh yang bukan ahlinya”. Diriwayatkan oleh Ahmad dan At Thabarani dalam al Kabir dan al Ausath.

Maka setelah ini tidak terdapat lagi anggapan bagi mereka yang mengingkari tawassul dan tabarruk (mencari berkah) dengan peninggalan-peninggalan nabi yang mulia. Al Baihaqi dan lainnya meriwayatkan dengan sanad bahwa sahabat Khalid bin al Walid pada peperangan Yarmuk kehilangan pecinya, ia berkata --kepada prajuritnya--: “carilah!”, namun mereka tidak menemukannya. Setelah dicari kembali akhirnya mereka menemukannya dan ternyata sebuah peci yang sudah lusuh. Khalid berkata: “ketika Rasulullah umrah dan memotong rambutnya, banyak orang berebut mengambil bagian pinggir rambutnya. Namun aku mendahului mereka untuk meraih --rambut— dari ubun-ubunnya dan aku letakkan di peci ini hingga tidak ada satu peperanganpun yang aku ikuti kecuali aku meraih kemenangan bersamanya”.[]

اللهم اجعلنا من أهل السنة والجماعة ولا تجعلنا من أهل البدعة والضلالة واجعلنا ممن يدافع على هذه العقيدة الصحيحة الناجية وأمتنا عليها يا مجيب السائلين وأدخلنا في زمرة العلماء والأولياء والشهداء والصالحين  واجمعنا مع سيد المرسلين في جنتك النعيم أمين  يا رب العالمين...

Diposting Oleh: Tgk. Edi Syuhada, Staf Pengajar Dayah Darul Ihsan Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Gampong Siem, Darussalam, Aceh Besar.
Bagikan ke:

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved