"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » » TEKS KHUTBAH: MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADAN 1435 H

TEKS KHUTBAH: MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADAN 1435 H

Written By Darul Ihsan on Minggu, 22 Juni 2014 | 08.39



Oleh : Tgk. H. Mutiara Fahmi Razali, Lc. MA

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله العزيز الوهاب، الذي جعل القرأن هدى ورحمة لأولي الألباب، و جعل شهر رمضان مغفرة لمن تاب وأناب. وصلى الله على المصطفى من أطهر الأنساب، وأشرف الأحساب، وعلى أله وأصحابه خير أهل وأصحاب، وسلم تسليما كثيرا.   
أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد ان سيدنا ونبينا محمدا رسول الله، بلغ الرسالة، وأدى الامانة، ونصح الامة، وكشف الغمة، فتركنا على محجة بيضاء ليلها كنهارها لايزيغ عنها الا هالك.
قال الله تعالى فى القرآن الكريم : يأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون. وقال رسول الله صلعم: من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.
اما بعد، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون
ويا أيها الناس، اتقوا ربكم ان زلزلة الساعة لشيء عظيم.
ويا أيها الناس اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
واصيكم ونفسي بتقوى الله  بامتثال اوامره، واجتناب نواهيه، لعلكم ترحمون.
Segala puji kepada Allah swt Tuhan seru sekalian alam. Selawat beserta salam kita sampaikan kepada Rasul junjungan alam Muhammad ibnu Abdillah saw.
Kaum muslimin sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah swt.
Mengawali tausiah singkat kali ini yang bertemakan “Menyambut bulan suci Ramadhan 1435 H”, maka khatib ingin mengajak kita semua merenungi keagungan dan keutamaan bulan Ramadhan tersebut dengan sebuah ilustrasi pertanyaan berikut ini ; Bagaimanakah perasaan kita jika suatu ketika diberi tahu bahwa rumah kita akan dikunjungi oleh seorang tamu yang teramat mulia, katakanlah seorang raja atau presiden? Kedatangannya saja ke rumah kita sudah merupakan suatu penghormatan dan kemulian bagi kita. Apalagi jika kita tahu ternyata kedangannya justru untuk memberi kita berbagai penghargaan, hadiah, dan oleh-oleh yang amat bernilai dan berkesan sepanjang hayat. Bagaimanakah perasaan kita?  Apakah kita akan biasa-biasa saja, “cuek” acuh tak acuh menerima berita itu ataukah kita akan mempersiapkan kedatangan tamu mulia itu dengan berbagai persiapan, baik secara fisik maupun mental, mempersiapkan berbagai perencanaan, dari mulai penyambutan, penerimaan, akomodasi dan makanan, hingga berbagai permohonan dan harapan yang ingin kita sampaikan kepada sang raja tersebut, hingga mempersiapkan acara perpisahan dan pelepasan yang amat berkesan saat kepulangannya nanti.  
Kaum muslimin sidang Jumat yang dirahmati Allah swt.
Sesungguhnya tamu yang kita ilustrasikan tadi adalah bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Adakah yang lebih kita cintai dalam hidup didunia ini kecuali pengampunan Allah swt?  
Jika Allah menghendaki dan umur kita masih panjang, sebentar lagi tamu mulia ini akan datang ke setiap rumah kita, ke masjid dan meunasah kita, ke kampong dan negeri kita. Maka, bagaimanakah kita akan menyambutnya? Apakah masih sama seperti tahun-tahun yang sudah. Kedatangannya disambut dengan kemeriahan di sepertiga yang pertama, lalu memasuki pertengahannya sedikit demi sedikit mulai terlupakan dengan berbagai kesibukan duniawi yang justru mencerminkan kita ingin ramadhan itu cepat berakhir dan berganti dengan hari raya. 
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Thabrani Rasulullah saw bersabda:
اَتَاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَاَهْلاً جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالبَرَكَاتِ فَاكْرِمْ بِهِ مِنْ رَائِرٍ هُوَ اَتٍ
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka selamat datang kepadanya. Telah datang bulan puasa, membawa segala rupa keberkahan. Maka alangkah mulianya tamu yang datang itu”.
Dalam riwayat lain oleh imam Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi, dari Abu Hurairah rasul bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كَتَبَ اللّهُ عَلَيْكُمْ صِيَا مُهُ فِيْهِ تُفْتَحُ اَبْوَابَ الجِنَانِ وَتُغْلَقُ اَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ  فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُ هَا فَقَدْ حُرِمَ
“Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah telah mewajibkan atas kalian shaum padanya. Di dalamnya dibuka lebar-lebar pintu-pintu surga, dan dikunci rapat-rapat pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaithan-syaithan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebajikan pada malam itu, berarti diharamkan baginya segala rupa kebajikan”.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah..
Jika demikian keutamaan bulan Ramadhan, maka marilah kita sambut bulan suci Ramadhan sebaik mungkin dengan beberapa adab dan persiapan, diantaranya:  
1.       Memohon Doa kepada Allah  agar diberi umur panjang dan kesehatan jasmani dan rohani hingga dapat berjumpa dengan bulan suci Ramadhan .
Ketika kita telah memasuki bulan rajab dan sya’ban, Rasulullah mengajarkan kita dengan doa yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya dan Thabrani: 
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
Sebagaimana nabi juga bertakbir dan berdoa dengan sebuah doa yang ma’tsur jika telah melihat datangnya hilal ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Turmuzi dan Ibn Hibban dalam Shahihnya:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ الله أكبر
“Dari Ibnu Umar ra, dia berkata, dulu Rasulullah SAW apabila melihat Al-Hilal beliau mengucapkan doa: " Allah Maha Besar, ya Allah, tampakkan al-hilal itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, dengan keselamatan dan Islam, serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau cintai dan Engkau Ridhai. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah”
2.  Menyambut ramadhan dengan Bersukacita dan gembira dengan kedatangannya. Firman Allah dalam Yunus 58

‏ ‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ‏ ‏[‏ يونس ‏:‏ 58‏]‏.
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Bagaimana kita tidak bersukacira dan bergembira dengan datangnya Ramadhan? Bukankah ia Bulan yang penuh dengan keberkahan, pengampunan, dan pahala yang berlipat ganda? Dalam Hadis yang dikeluarkan oleh ibn khuzaimah dalam kitab shahihnya daripada Salman, Rasulullah saw bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، شَهْرٌ جَعَلَ الله صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَن تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِن خِصَالِ الخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَمَن أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً فِيهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرُ يُزَادُ فِيهِ الرِّزقِ فِي رِزْقِ الْمُؤْمِنِ فِيهِ،
 فَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِن أَرْبَعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ: فَشَهَادَةُ أَن لَا إلَهَ إلَّا اللهُ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ، وَأَمَّا الخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا: فَتَسْأَلُونَ اللهَ الجَنَّةَ، وَتَتَعَوَّذُونَ بِهِ مِن النَّارِ.
“Wahai segala manusia ! Telah dinaungi kamu sekalian oleh bulan yang diberkati, dan bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan yang diwajibkan Allah berpuasa di dalamnya, Beribadah pada malam harinya merupakan suatu amalan yang disuka). Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan satu kebaikan, adalah ia seperti seorang yang telah menunaikan satu kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa menunaikan satu kewajiban di bulan Ramadhan adalah ia seperti seorang yang menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan shabar. Dan shabar itu balasannya tidak lain adalah syurga. Ramadhan itu ialah bulan (di mana Allah) memberikan berbagai pertolongan, dan bulan (di mana Allah) menambahkan rezki orang-orang yang beriman.
 Perbanyaklah dalam bulan (Ramadhan) itu empat perkara, dua perkara untuk kamu mencari keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi yang kamu sangat perlu padanya. Adapun dua perkara yang mencari keridhaan Allah ialah dengan mengucapkan kalimat tauhid dan istighfar : اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله  اَسْتَغْفِرُالله  Sedangkan dua perkara lagi yang sangat kamu perluka ialah ucapan :
 اِنِّيْ اَسْئَلُكَ الْجَنَّةَ  وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ  ”Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu syurga, dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka”.

3.  Menyiapkan diri untuk dengan cara membuat perencanaan-perencanaan sejak awal untuk memaksimalkan kualitas dan kuantitas ibadah di bulan ramadhan.  Dalam kehidupan sehari2 kita selalu mempersiapkan berbagai perencanaan, perencanaan keuangan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya yang bertujuan guna tercapainya keuntungan yang maksimal dari suatu program. Bahkan mungkin sebagian kita telah pula mempersiapkan berbagai macam asuransi dan jaminan bagi keluarganya untuk menghadapi berbagai kemungkinan jika meninggal dunia.  Lantas Kenapa kita lupa dan lalai menyiapkan persiapan untuk diri kita sendiri  guna keuntungan kita di hari kemudian? Hari yang merupakan kehidupan abadi kita. Hari tiada guna harta, keluarga, sanak saudara, pangkat dan jabatan,  kecuali amalan kita yang kita bawa serta bersama?
Sudahkah kita mengevaluasi hasil amalan ramadhan kita pada tahun yang lalu sebagai perbandingan bagi perencanaan dan perbaikannya di tahun ini? Berapa juz bacaan Alquran, berap malam shalat taraweh yang tertinggal, beerapa kali sempat salat qiyamullail? Berapa banyak sedekah yang kita infaqkan?
Saiydina Ali berkata: Barang siapa yang tidak mempersiapkan rencana dan memperhitungkan berbagai resiko, maka satu saat kelak ia akan menyesal.

4.  Mempersiapkan menyambut ramadhan dengan mengulang kaji ilmu dan hukum terkait puasa dan zakat fitrah. Karena sesungguhnya tidak sah amalan seseorang tanpa ia melaksakan amalan tersebut dengan syarat dan rukun tertentu. Syarat dan rukun tentu tidak dapat kita ketahui tanpa kita pelajari.  Allah swt berfirman  dalam surat An Nahlu: 43

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,
Rasulullah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu hukumnya adalah fardhu ain bagi setiap muslim. Ilmu fardhu ain yang dimaksud dalam hadis ini adalah ilmu agama yang dengannya akan benar amal ibadah kita dan menyelamatkan kita dari azab neraka kelak. Program tafaqquh fid din, tadabbur makna alquran dan hukum-hukum mestinya juga menjadi perhatian kita selain amal ibadah rutin dalam bulan ramadhan.
Ramadhan mestinya juga mencerminkan bulan persatuan umat Islam karena ia adalah bulan yang penuh dengan syiar-syiar  Keislaman. Sungguh miris dan ironi ketika kita justru  melihat sebagian orang yang menjadikan bulan ramdhan sebagai ajang munculnya kembali perselisihan umat yang berakibat kepada konflik-konflik sosial di tengah-tengah umat. Mulai dari perdebatan metode penetuan awal ramadhan dan syawal dengan rukyah atau hisab, jumlah rakaat shalat tarawih, penyaluran zakat fitrah dengan nilai uang dan lain sebagainya. Persoalan ini biasanya muncul akibat kurangnya wawasan keilmuan atau ta’assub terhadap sesuatu pendapat yang terkadang justru menyalahi pendapat jumhur. 
Sesungguhnya Agama Islam telah memiliki mekanisme yang sangat baik guna menghindari terjadinya perselisihan dalam hal-serupa ini. Allah berfirman dalam surat An Nisa’: 59:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqߧ9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqߧ9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”.
Ayat ini mengandung dua makna utama. Pertama adanya kewajiban untuk taat kepada Allah, taat kepada Rasul, dan para ulil amri. Kedua, perintah agar kembali kepada sumber-sumber hukum Islam jika terjadi perselisihan dalam berbagai permasalahan.  Adapun tafsir dari kata ulil amri sebagaimana diriwayatkan oleh para sahabat dan dinukilkan oleh imam Ibn Jarir at Thabary dalam tafsirnya جامع البيان عن تأويل آى القرآن  dapat disimpulkan kepada tiga pendapat. pertama para pemimpin atau umara, kedua para ulama dan ahli fiqih, dan ketiga para sahabat rasul atau lebih khusus ada yang menyatakan khalifah Abu Bakar ra dan Umar ra.
Atas dasar ini, selaku umat Islam pada hakikatnya kita dituntut untuk taat kepada para pemimpin khususnya dalam persoalan khilafiyah seperti ini. Sebab qaedah ushul menegaskan حكم القاضى يرفع الخلاف“Hukmul Qadhi Yarfa’ul Khilaf”  artinya putusan dari hakim ataupun penguasa dapat menghilangkan perselisihan. Oleh karenanya peran Kementerian Agama dalam hal ini sangat penting untuk dijadikan sandaran. Kalaupun sebagian berdalih bahwa pemerintah tidak dapat ditaati dengan berbagai argumen yang sebenarnya kurang beralasan, maka kita masih dapat mengambil pendapat kedua yang menyatakan bahwa para ulama dan ahli fiqih adalah para ulil amri yang wajib ditaati. Dalam persoalan penetuan ramadhan misalnya seluruh imam mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) sepakat bahwa metode yang wajib ditaati adalajh ru’yah al hilal atas dasar hadis shahih daripada rasulullah saw daripada riwayat Bukhari dan Muslim:  Shumu liru’yatihi wafthiru lirukyatih. Apalagi jika kita berpegang bahwa makna ulil amri itu adalah para sahabat rasul atau dengan kata lain memahami makna ijma’ sahabat sebagai salah satu sumber hukum maka perselisihan tentang berbagai persoalan dalam ibadah puasa mestinya dapat kita hindari. Maka oleh karenanya, mekanisme yang diatur oleh Allah swt dalam ayat tadi sudah sangat tepat untuk menyelesaikan berbagai potensi konflik dan khilafiyah dalam berbagai persoalan umat. 
Sidang jamah yang berbahagia..
Demikianlah beberapa hal yang dapat kita persiapkan dalam rangka menghadapi bulan suci ramadhan.  Marilah kita sambut bulan suci ini dengan penuh sukacita, kegembiraan, persiapan yang matang, baik secara fisik maupun mental, membuat perencanaan-perencanaan amalan ibadah, demi mencapai target kualitas keimanan dan ketaqwaan kita dari tahun ke tahun.
Ya Allah berkatilah hidup kami dalam bulan rajab dan sya’ban ini dan sampaikanlah umurkami hingga dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan..
بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى واياكم بمافيه من الايات والذكرالحكيم، وتقبل منى ومنكم تلاوته، فاستغفروه انه هوالغفورالرحيم، وتوبوا الى الله ايها المؤمنون، التائب من الذنب كمن لا ذنب له، او كما قال : كما تدين تدان
Bagikan ke:

+ komentar + 1 komentar

1 Juni 2016 19.06

mohon share untuk dibaca di masjid

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved