"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » » Perbandingan Hubungan Antara NU dengan Pesantren di Jawa dan Aceh

Perbandingan Hubungan Antara NU dengan Pesantren di Jawa dan Aceh

Written By Darul Ihsan on Selasa, 26 Agustus 2014 | 00.28

 
Santri sedang menghafal Matan Alfiah Ibnu Malik di depan Gapura Nahdhatul Ulama
Oleh: Tgk Mustafa Husen Woyla, S. Pd. I

Ada hal yang menarik untuk diamati tentang semangat berorganisasi muslim di Jawa Timur, Disini antara NU dengan Pesantren tidak bisa pisahkan satu sama lainnya, dalam kata lain, setiap warga pesantren salafiah sudah pasti warga NU.
Sebelum jauh melangkah ada baiknya penulis perkenalkan istilah sekitar NU. Nahdatul Ulama diakronimkan menjadi NU, pengikutnya disebut Nahdiyyin. Faham NU sering disebut juga dengan singkatan Aswaja (Ahlussunah wal jamaah) dan faham ini adalah faham mayoritas di Indonesia sekalipun disegi penamaan berbeda-beda. Tokoh pendirinya adalah KH Hasyim Asy’ari.
Aliran ini berlandaskan Al-qur’an, Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Mengakui kebenaran mazhab empat yang makruf (Hanafi, Maliki dan Syafi’i dan Hambali) namun dalam beramal memilih Fikih  Imam Syafi’i. Oleh karena itu sering juga faham Aswaja atau NU ini disebut dengan syafi’yyah. Dalam bidang Aqidah warga NU mengikuti Imam Abu Hasan Asya’ri dan Al-Maturidi oleh karena itu ada juga yang menyebutkan pengikut  aliran teologi asy’ariyah wal Maturidyah, artinya pengikut Abu Hasan Asya’ri dan Al-Maturid). Adapun Ciri khas warga NU mengadakan maulidan, tahlilan, talqin mayyit, kenduri kematian dan dibolehkan bertawasul.
Ada juga yang menyebutkan kaum sarungan atau kaum salaf atau salafiah. Salafiah disini bermakna harfiah yakni pesantren yang menganut sistem tradisional bukan salafi Wabahy pengikut Muhammad bin Abdul Wahab Nejad yang menisbahkan diri pengikut kaum salaf (para sahabat nabi terdahulu). Konkritnya Kaum salafi di Jawa Timur begitu juga di Aceh adalah orang pesantren yang mengaji Kitab Turats (Kitab Kuning) ulama-ulama yang masyhur dalam mazhab Syafi’i.
Untuk lebih mengenal hubungan antara NU dengan  Pesantren di Jawa timur kami sudah mewawancarai empat nara sumber yang berkiprah di NU sekaligus sebagai pengasuh di Pesantren. KH Anwar Mahrus (Ketua Pembina Tertinggi Lirboyo), KH An’im Falahuddin Mahrus (Rais Am Lajnah Bahtsul Masaail), KH Abdullah Kafabihi Mahrus (Rektor PT Tribakti dan Sekrataris Umum NU JATIM) dan  HJ Aina Ainaul Anwar (Ketua Muslimat NU Kediri), KH Moch Ma’ruf Zainuddin (Pimpinan unit Pesantren Salafi Terpadu Lirboyo).
Agar terbentengi generasi Islam supaya tidak tergerus oleh aliran sempalan seperti Wahaby Fundamental, Islam garis keras Negera Islam Indonesia (NII), Syiah, lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan Liberalisme maka Pesantren Lirboyo membentengi para generasi Islam dengan cara mengisi dengan ilmu pengetahuan lewat Pesantren Salafiah yang mengajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman. Disamping itu setiap santri juga didoktrin dan digembleng wajib berorganisasi dibawah payung Nahdatul Ulama (NU).
Wajib disini bukan berarti tidak boleh masuk ormas selain NU tapi kelak ketika santri keluar dari Pesentren ketika berorganisasi acuan dasarnya  faham Ahlussunnah wal jamah bermazhab Syafi’i. Dengan cara ini pemahaman generasi akan murni sebagaimana diharapkan, yakni generasi ahlusunnah wal jamaah. Demikian yang disampaikan oleh KH Abdullah Kafabihi Mahrus (Rektor PT Tribakti dan Sekrataris Umum NU JATIM) di Kediamannya di Komplek Pesantren Lirboyo.

Membendung  faham liberalisme dan pluralisme agama dari berbagai disiplin ilmu umum, Pesantren Lirboyo mendirikan unit otonom pesantren Ar-risalah salafiah terpadu. Hal ini untuk membendung lahirnya putra-putri Indonesia seperti Ulil Absar Abdalla dan Siti Musdah Mulia. Bahkan menurut HJ Aina Ainaul Anwar (Ketua Muslimat NU Kediri) Ulil Absar Abdalla Ketua Jemaah Islam Liberal  (JIL) menantu kiyai ternama  dan  anak seorang Kiyai  yang sangat sufi, Ayah Ulil  jatuh sakit berat gara-gara terus-menerus memikirkan tingkah anaknya yang sudah jauh melenceng dari faham Ahlusunnah wal jamaah dan pemikiranya sudah diracuni oleh faham sekularisme. Sehinga saban hari orang datang mengadu tentang ulah Ulil sudah berani meyerang Islam dengan berbalut Islam Liberal.  Jelas HJ Aina Ainaul Anwar (Ketua Muslimat NU Kediri) dengan nada sangat geram di ruang tamu kantor pesantren Ar-risalah Lirboyo.


Jika di Jawa Timur demikian adanya, Bagaimana hubungan  NU dengan pesantren di Aceh?

Di Aceh umumnya pesantren salafiah menganut faham Ahlussunnah wal jamaah. Dalam Fikih bermazahab Syafi’i dan dalam bidang akidah mengikuti Abu Hasan Asy’ari dan Al-maturidi. Namun dalam organisasi tidak semua Pesantren/Dayah di Aceh jamaah nahdhiyyin (pengkiut NU).  Walaupun secara prinsip mendukung visi-misi NU namun banyak ulama dayah Aceh tidak terlibat dalam kepengurusan NU. Di Aceh ulama Dayah ada wadah organisasi tersendiri yang independen tidak di bawah Pemrintah. Antara lain; Himpunan Ulama Dayah Aceh(HUDA), Majlis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA) dan Inshafuddin. Hal ini berbeda 180 derjat dengan Pesantren Jawa Timur setiap Pesantren underbow NU. Bahkan kami dapati Gapura Pesantren terbuat dengan desain logo NU.

Penulis adalah : Anggota  Magang Ke Pesantren Jawa Timur program Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD)Provinsi.






Bagikan ke:

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved