"أهلا وسهلا مرحبا يا من أتيتم عندنا"
Home » , , » Untungkah Aneuk Beut Berdagang Dengan Allah? (Refleksi Hari Santri Nasional)

Untungkah Aneuk Beut Berdagang Dengan Allah? (Refleksi Hari Santri Nasional)

Written By Darul Ihsan on Minggu, 22 Oktober 2017 | 09.28

Untungkah Aneuk Beut Berdagang Dengan Allah?
(Refleksi Hari Santri Nasional)
Oleh: Teungku Mustafa Husen Woyla

Meudagang adalah bahasa Aceh yang sudah mulai tergerus zaman. Sehingga jika ada satu dua orang menggunakan kata meudagang sudah terasa tidak akrab. Akhir-akhir ini masyarakat Aceh sudah sering mengunakan kata jak beut (mengaji). Bahkan sudah mulai ada yang menggunakan kata mondok atau nyantri. Terlepas dari rupa-rupa kata itu tetap tidak lari dari makna dasarnya yaitu tafaquh fiddin. Adapun nama tempat meudagang sebelum dan sesudah kemerdekaan ada bermacam sebutan dan nama  menurut daerah. Antara lain, Zawiyah (Arab), Dayah (Aceh)  dan Pesantren (Jawa).
Dalam ulasan ini penulis mengunakan kata Meudagang ini sebagai bentuk penyelamatan perbendaharaan kata bahasa Aceh yang hampir punah. Adapun hal lain  yang paling esensial adalah kenapa kata meudagang itu  digunakan dan dipopulerkan oleh masyarakat Aceh tempo dulu, bukankah itu bersifat komersial?  Kata meudagang itu akar katanya dagang yang  bermakna jual-beli. Jika demikian adanya, tabukah mengunakan kata itu pada pekerjaan mulia yang Allah dan rasulNya perintahkan itu?

Secara ilmu kebahasaan (linguistik) jawabanya tentu tidak, karena endatu orang Aceh terkenal dengan rumusan Narit Madja-nya yang begitu sarat dengan kandungan makna dan pesan moral yang tersurat dan tersiratnya dalamnya serta masih relevan digunakan sampai zaman modern ini.
 Allah SWT dengan sangat gamblang  mengunakan kata Meudagang (jual-beli) dalam Al-Qur’an.  Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur'an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka……. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Taubah: 111)

Al-'Imad ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela berkorban di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya."
Jika ada orang ekstrim kiri mengatakan, oh itu kan jihad bermakna qital yang tidak relevan dengan zaman sekarang karena versi mereka jihad bermakna qital  baru ada jika muslim diperangi. Kalau masih aman tentram tidak boleh ada qital.

Boros saya yang bukan pakar bahasa (lingius) , dari aspek filosofis ilmu linguistis meudagang itu sangat mengarah ke jual beli bermakna hakikat bukan majaz. Makna meudagang mengarah ke barter barang atau jasa, pun demekian di dalam makna sesungguhnya jihad di jalan Allah semata mengharap ridha Allah bukan Surga-Nya.

 Dalam tinjauan khusus dunia  pedagang (baca. Aneuk beut) juga penuh perjuangan antara  laba atau rugi. berhasil atau gagal di masa meudagangnya. Dalam arti konkrit, rugi disini adalah gagal menempah diri menjadi manusia berilmu, berakhlaqul karimah dan tidak menjadi agen perubahan bagi keluarga, kaum dan lingkungannya.

Hal ini lah (Allah beli dari orang yang berani berjihad dalam arti yang luas) sangat bersifat mengikat dengan adanya penjelasan dalam ayat Allah yang lain melarang semua ke medan perang dan mesti ada dari meraka yang pergi menuntut ilmu kemudian pulang memberi penerang bagi kaumnya.
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (Surat At-Taubah Ayat 122).

Peran aneuk buet dan  ulama

Sebelum kemerdekaan
Sekalipun masih dianak tirikan di negeri yang direbut dengan pekikan Allahu akbar ini, sudah tak terbantahkan lagi mereka punya andil  besar dalam merebut dan mendirikan bangsa ini.
Dalam upaya mengusir penjajahan kolonial Belanda, sikap para ulama yang kemudian diikuti oleh aneuk beut dan rakyat jelas terlihat dari usaha membentuk laskar mujahidin yang terdiri dari para aneuk beut dan masyarakat guna mengusir penjajahan dari bumi Serambi Mekkah. Hal ini terus berlanjut hingga perang revolusi mempertahankan kemerdekaan.

Puncak dari dukungan para ulama dan aneuk beut terhadap Republik Indonesia yang baru diproklamirkan adalah diterbitkannya "Maklumat Ulama Seluruh Aceh" tanggal 15 oktober 1945. Maklumat ini berisi fatwa bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah sama dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil (jihad fi sabilillah), dan merupakan sambungan dari perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan  Tgk. Chik di Tiro, dan pahlawan-pahlawan kebangsaan yang lain. Maklumat penting ini diprakarsai dan ditanda-tangani oleh empat ulama besar yaitu Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Tgk. Muhammad Daud Beureueh, Tgk. H. Dja'far Sidik Lamjabat, dan Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri, serta diketahui oleh Teuku Nyak Arief selaku residen Aceh dan di setujui oleh Tuanku Mahmud selaku ketua Komite Nasional. (Sumber buku biografi Abu Hasan Krueng Kalee).

Keluarnya maklumat ulama seluruh Aceh tersebut sangat memberi dampak positif bagi pemerintahan baru RI saat itu. Meski tidak sepenuhnya mewakili rakyat Aceh, maklumat tersebut sering ditafsirkan sebagai pernyataan dukungan politik resmi rakyat Aceh terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Disisi lain, maklumat itu  juga berdampak terhadap adanya dukungan fisik dan materil rakyat Aceh bagi membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Sehingga tidak mengherankan, dalam kunjungan pertama presiden Soekarno ke Aceh Juni 1948, ia menegaskan bahwa Aceh dan segenap rakyatnya adalah modal pertama bagi kemerdekaan Republik Indonesia.

Dua trik Snouck redam perlawanan pribumi Aceh

Realitas membuktikan bahwa  Belanda sangat kualahan melawan pergerakan ulama dan aneuk beut sehingga perlu dikirim sarjana ke Mekkah menjadi orientalis yang pada akhirnya dikirim ke Aceh dan Nusantara untuk mencari titik kelemahan kaum muslimin.

Pertama, Dikotomi Islam dan Politik, Kronologis terjadinya kecurigaan Belanda terhadap dayah  di Aceh dan Indonesia, karena dalam ajaran Islam pemerintahan Belanda merupakan pemerintahan kafir yang wajib dilawan dengan jihad fi sabilillah.

Hasil analisis Snouck Hurgronje Islam di Indonesia mesti pilah terbagi kepada dua bagian besar yaitu Islam sebagai religius yang menyarankan kepada pemerintah agar berlaku toleran agar tercipta ketenangan dan stabilitas, dan Islam sebagai politik yang harus dicurigai dan diawasi secara teliti darimana datangnya, terutama yang dipengaruhi oleh ulama dayah.

Salah satu teori yang ampuh digunakan oleh Snouck adalah teori Emile Durkheim, Beberapa taktik Pemerintah Belanda dalam memadamkan pergerakan dan perlawanan anuek beut  antara lain: depolitatsi (pemisahan agama dan politik ) ulama, aneuk beut dan rakyat. Juga para teungku rangkang dalam mengajarkan agama dalam pengawasan Belanda. Tersebab itu ada beberapa pemuda pilih mendalami agama pergi ke Yan Kedah, Malaysia.

Kedua, merusak  solidaritas, Dalam perkuliahan dan diskusi dengan penulis, menurut Kamaruzaman Bustamam Ahmad (KBA), Antropolog ternama Aceh, Snouck berhasil merubah paradigma orang muslim Aceh terhadap agama. Dari mendahulukan agama daripada adat ke mendahulukan adat daripada agama. Sehingga sering kita dapati ada orang yang meninggalkan salat  gara-gara peutimang adat. Dan juga saling hujat tersebab beda majlis taklim atau majlis zikir.
 Tipu muslihat itu sampai hari ini masih kentara terasa. Mungkin karena muslim Aceh terlampau percaya kepada teungku puteh (laqab Snouck) itu yang  konon hafiz Al Qur’an dan pernah menyamar menjadi muslim sehingga dipercayakan jadi imam di Mesjid Raya Baiturrahman. Mesjid kebanggaan orang Aceh.

Hikayat prang sabi bakar semangat juang muslim Aceh

Hikayat ini sendiri dikarang  Tgk. Chik Pante Kulu pada tahun 1881, atas perintah Tgk. Chik Di Tiro.  Menurut  sarjana Belanda bernama  Zentgraaf, hikayat Prang Sabi karangan ulama Aceh itu telah menjadi momok yang sangat ditakuti Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan, apalagi membaca hikayat Prang Sab, mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia-Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kembangan.

Sarjana Belanda ini menyimpulkan bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati kecuali hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu dari Aceh. Kalau pun ada karya sastrawan Perancis La Marseillaise dalam masa Revolusi Perancis, dan karya Common Sense dalam masa perang kemerdekaan Amerika, namun kedua karya sastra itu tidak sebesar pengaruh hikayat Prang Sabi yang dihasilkan Muhammad Pante Kulu. Senada juga yang dikatakan oleh Prof. Dr. Anthoni Reid, ahli sejarah bangsa Australia.

Awal kemerdekaan

Peran ulama dayah tak berhenti hanya sekedar memerdekakan Negara ini  dari penjajahan Belanda namun juga mengawalnya. Sebagaimana tercatat bahwa, setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tahun  1945-1946 dayah Darul Ihsan sekarang (dulu dayah Meunasah Blang) pernah menjadi markas laskar mujahidin untuk melawan  agresi Belanda I. ketika dipimpin oleh  Tgk Ibrahim Payed, wakil kepala Tgk Idris Lamnyong.

Tak berhenti  disitu. Tgk. Ali as Su’udy beserta para mujahidin dikerahkan untuk menjaga wilayah pesisir/pantai Aceh Besar dari masuknya kembali pasukan Belanda yang sudah berada di perairan Sabang.

Kwetika itu, sekitar lima puluh aneuk beut  dan para mujahidin juga dikirim untuk berperang di Medan Area (Besitang dan Pangkalan Brandan di Sumatera Utara) bergabung dengan pasukan tiga bataliyon Aceh lainnya. Yaitu Bataliyon Kolonel Tgk Nurdin (murid Abu Hasan Krueng Kalee), Bataliyon Teuku Hamzah  dan Bataliyon Yusuf. Kemudian hari dari itu, Dayah Darul Ihsan  juga pernah menjadi markas Persindo pimpinan Tgk. Syekh Marhaban, Ali Hasjimi, dan Tgk Nurdin.

Menjaga Kedaulatan NKRI

Peran ulama besar Aceh memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Ketika terjadi konflik DI/TII Aceh yang dipimpin oleh Tgk Daud Beureueh para ulama kaum tua, Abu Hasan Krueng Kalee Abuya Muda Waly, Teungku Abdul Salam Meuraksa, Teungku Saleh Mesigit Raya dan ulama lainnya tidak mendukung gerakan ini bahkan Tgk Syihabuddin Syah (Abu Keumala) murid dari Abuya Waly dengan lantang mensosialiasi fatwa haram terlibat dalam DI/TII ban sigom Aceh  dan digolongkan mereka dalam ahli bughat (Separatis).

 Bahkan sampai hari ini tidak ada istilah kudeta pemerintahan yang sah dalam tiga besar organisasi Islam, yakni Perti-Tarbiyah, Nahdhatul Ulama dan Al-washliyah selama tidak dengan terang melawan perintah Allah SWT.

Kenapa jamaknya aneuk beut berjiwa militan? jawabnya adalah pada umumnya dayah membentuk manusia yang berjiwa ikhlas, berakhlaqul karimah, ta’dhim hormat dan  hubbul wathan (cinta tanah air). Itulah sebabnya penulis panjang lebar mengulas makna meudagang baik  yang tersirat maupun terlafadh.  


Hari ini, mulai dari Sabang sampai Merauke  kami kaum yang masih dimarjinalkan di negeri ini telah menyediakan generasi terbaiknya kami menjadi tokoh pergerakan, menteri, pahlwan hatta  Presiden.
Ayoo Tolak lupa!!! Mari sejenak kita membaca Naskah Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga; “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.


Pertama, bahwa Tugu Emas di Monas dan pesawat RI-01 itu hasil patungan kucuran keringat orang  muslim Aceh, tentunya berkat  seruan dari para ulama dayah.

Kedua, Ramadhan adalah saksi sejarah puncak perjuangan kemerdekaan para ulama dan aneuk beut bersama umat Islam. (Jum’at, 9 Ramadhan 1334 H/17 Agustus 1945).

Ketiga, Allah sudah persiapkan Indonesia menjadi Negara muslim terbesar di dunia bukanlah kebetulan tapi sudah tercatat di Lauhul Mahfudz.

Keempat, tambah sendiri. sebagai pemantik penulis mulakan dengan kata-kata nabi Sulaiman as ketika melihat kebesaran Allah mendatang singgahsana Ratu Balqis dalam sekejab mata “Haaza min fadhli rabbi (ini termasuk kurnia Tuhanku Allah).

Penulis adalah; Guru Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Alumni dayah Darul Muarrif Lam Ateuk dan BUDI Lamno, Sektaris Jenderal Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA) dan juga Panitia Lomba menulis hari Santri Nasional II.  Email: risalahbuyawoyla@gmail.com





Bagikan ke:

Posting Komentar

 
Website Resmi © Yayasan Teungku Haji Hasan Krueng Kalee Dayah Darul Ihsan – All Rights Reserved